Rupiah Melemah ke Rp17.423 Per Dolar AS Meski Ekonomi Tumbuh

Rupiah Melemah ke Rp17.423 Per Dolar AS Meski Ekonomi Tumbuh
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.423 Per Dolar AS Meski Ekonomi Tumbuh.

Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.423 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, di tengah pengumuman pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen. Dilansir dari Suara, mata uang Garuda mengalami penurunan sebesar 0,23 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp17.394.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan performa ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini berada di atas estimasi berbagai lembaga. Namun, sentimen positif dari data domestik tersebut belum mampu menahan tekanan eksternal yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan bahwa pelemahan mata uang regional, termasuk rupiah, sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran eskalasi konflik dan lonjakan harga komoditas global. Harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas 100 dolar AS menjadi faktor pemberat utama bagi nilai tukar.

"Rupiah dan mata uang regional umumnya melemah terhadap dolar AS di tengah kekuatiran akan eskalasi di Timur Tengah dan harga minyak mentah dunia yang masih di atas 100 dolar AS," kata Lukman Leong, Analis Doo Financial Futures.

Lukman menambahkan bahwa meskipun rilis data produk domestik bruto (PDB) Indonesia menunjukkan hasil yang kuat, hal itu hanya mampu meminimalkan tingkat depresiasi rupiah tanpa bisa membalikkan tren pelemahan sepenuhnya.

"Data PDB kuartal pertama Indonesia dirilis lebih kuat dari perkiraan dan menahan perlemahan yang lebih besar, tapi perlemahan rupiah diperkirakan masih bisa berlanjut karena akan didikte oleh perkembangan di Timur Tengah dan harga minyak dunia," jelas Lukman Leong.

Tren penurunan ini juga tercermin pada indeks dolar AS yang naik ke posisi 98,45 dari sebelumnya 98,37. Kondisi pasar menunjukkan pelemahan yang bervariasi di Asia, dengan rupee India merosot 0,31 persen dan ringgit Malaysia turun 0,18 persen, sementara won Korea dan yuan China justru menguat.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea menegaskan bahwa pergerakan rupiah masih selaras dengan dinamika mata uang negara berkembang lainnya sejak konflik di Timur Tengah bermula.

ÔÇ£Philippine peso melemah sebesar 6,58 persen, Thailand baht melemah 5,04 persen, India rupee melemah 4,32 persen, demikian pula dengan Chile peso (-4,24 persen), Indonesia rupiah (-3,65 persen), dan Korea won (-2,29 persen),ÔÇØ kata Erwin Gunawan Hutapea, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI.

Guna menjaga stabilitas sesuai nilai fundamental, bank sentral berkomitmen melakukan intervensi melalui transaksi spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

ÔÇ£Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global,ÔÇØ kata Erwin Gunawan Hutapea.

Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS. Meskipun angka ini turun dari posisi Februari sebesar 151,9 miliar dolar AS, Bank Indonesia memastikan jumlah tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional karena setara dengan 6,0 bulan pembiayaan impor.

Artikel terkait

Rekomendasi