Rupiah Tembus Rp 17.528 Akibat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah

Rupiah Tembus Rp 17.528 Akibat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp 17.528 Akibat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah.

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi signifikan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 12 Mei 2026, di tengah penguatan sentimen geopolitik Timur Tengah. Mata uang Garuda tercatat merosot 114 poin hingga mencapai level Rp 17.528, setelah sempat menyentuh titik terendah di Rp 17.534 selama sesi perdagangan.

Pelemahan ini berlanjut dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.414 per dolar AS. Pergerakan negatif tersebut terjadi seiring dengan buntunya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang mengakibatkan peningkatan tensi di kawasan produsen energi utama dunia tersebut, sebagaimana dilansir dari Investor Daily.

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan penegasan bahwa penembusan angka psikologis Rp 17.500 ini berkaitan erat dengan tidak adanya kemajuan dalam upaya pengakhiran perang. Respons Teheran terhadap usulan Washington menunjukkan perbedaan prinsip yang tajam antara kedua belah pihak.

"Teheran juga menekankan kedaulatan atas Selat Hormuz, yang menangani sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global. Sementara itu, pemerintahan Trump mengumumkan rencana untuk meminjamkan 53,3 juta barel minyak mentah dari Cadangan Minyak Strategis AS (SPR) sebagai bagian dari upaya untuk meredam pasar minyak," soroti Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Tekanan terhadap mata uang domestik semakin berat setelah pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru. Kebijakan ini menyasar tiga individu dan sembilan korporasi yang dituduh membantu distribusi minyak Iran ke Tiongkok, termasuk entitas di Hong Kong, Oman, dan Uni Emirat Arab.

Selain faktor politik, pelaku pasar saat ini sedang mencermati rilis data ekonomi dari Negeri Paman Sam yang dijadwalkan keluar pada Selasa malam. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) diprediksi akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan suku bunga bank sentral AS ke depan.

"Pasar kini menunggu data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis malam nanti, yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan moneter Fed. CPI utama diperkirakan akan naik 0,6% MoM pada bulan April, melambat dari kenaikan 0,9% pada bulan Maret," beber Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Proyeksi inflasi tahunan AS diperkirakan merangkak naik ke angka 3,7% secara tahunan (YoY), meningkat dari realisasi sebelumnya sebesar 3,3%. Sementara itu, data inflasi inti untuk periode April 2026 diprediksi berada di angka 2,7% YoY, sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian bulan Maret sebesar 2,6%.

Artikel terkait

Rekomendasi