Rupiah Melemah ke Rp 17.675 per Dollar AS Akibat Tekanan Geopolitik

Rupiah Melemah ke Rp 17.675 per Dollar AS Akibat Tekanan Geopolitik
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp 17.675 per Dollar AS Akibat Tekanan Geopolitik.

Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (18/5/2026) hingga tertekan 78 poin atau 0,44 persen ke level Rp 17.675 per dollar Amerika Serikat (AS), seperti dilansir dari Money.

Kombinasi tekanan eksternal dan domestik membebani pasar keuangan setelah mata uang Garuda sebelumnya sempat menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz, menjadi faktor utama.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa insiden penyitaan kapal China oleh Iran saat pelaksanaan KTT AS dan China memperburuk situasi. Konflik militer Israel di Lebanon Selatan dan operasi terhadap pimpinan Hamas turut mendorong penguatan dollar AS sebagai aset safe haven global.

ÔÇ£Masalah Selat Hormuz masih menjadi perhatian. Apalagi pada saat KTT di Tiongkok kemarin, Iran menyita kapal Tiongkok. Artinya ini membuat ketegangan tersendiri,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi.

Lonjakan harga minyak mentah dunia akibat konflik ini diproyeksikan menambah beban ekonomi Indonesia. Anggota Komisi XI DPR RI Bertu Merlas mengingatkan pemerintah untuk waspada karena kebutuhan impor minyak domestik mencapai 1,5 juta barrel yang memerlukan pasokan dollar AS dalam jumlah besar.

ÔÇ£Harga minyak mentah pun juga akan terus mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap ekonomi di dalam negeri, terutama adalah tentang masalah impor, selalu saya katakan adalah impor minyak yang begitu besar 1,5 juta per barrel,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi.

Faktor domestik lain yang menekan rupiah meliputi kebutuhan valuta asing untuk pembagian dividen perusahaan, jatuh tempo utang luar negeri, serta aksi masyarakat mengalihkan simpanan ke mata uang asing. Data DJPPR Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun, atau setara rasio utang 40,75 persen terhadap PDB.

Pasar saham domestik juga diperkirakan melemah karena sentimen rebalancing dari FTSE Russell dan MSCI yang akan mendepak saham Indonesia berkonsentrasi kepemilikan tinggi pada Juni 2026. Selain itu, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai pelemahan rupiah yang dinilai tidak berdampak pada ekonomi desa turut direspons negatif oleh para investor di pasar keuangan.

Artikel terkait

Rekomendasi