Rupiah Melemah ke Rp17.667 Per Dolar AS Meski BI Rate Naik

Rupiah Melemah ke Rp17.667 Per Dolar AS Meski BI Rate Naik
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.667 Per Dolar AS Meski BI Rate Naik.

Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup merosot sebesar 13 poin atau 0,07 persen ke level Rp17.667 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5). Depresiasi mata uang berlambang garuda ini tetap terjadi walaupun Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen, sebagaimana dilansir dari Investasi.

Data Bloomberg menunjukkan mata uang tanah air terkoreksi dari posisi penutupan sebelumnya yang berada pada angka Rp17.654 per dolar AS. Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat mata uang domestik berada pada level Rp17.673 per dolar AS.

Pakar ekonomi menilai situasi ini disebabkan oleh tingginya risiko di pasar global maupun domestik, termasuk penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak dunia, lonjakan yield US Treasury, dan potensi modal keluar dari negara berkembang. Tekanan impor energi dan persepsi terhadap risiko fiskal juga ikut membebani penguatan mata uang lokal.

"Pergerakan rupiah dalam satu bulan terakhir menunjukkan tren depresiasi yang cukup konsisten dan belum sepenuhnya tertahan oleh intervensi moneter," ujar M. Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef.

Ia berpendapat bahwa kenaikan instrumen suku bunga acuan hanya mampu bertindak sebagai penahan volatilitas dalam jangka pendek. Oleh karena itu, pemerintah bersama otoritas moneter dituntut untuk terus mengendalikan defisit transaksi berjalan, memperkuat ekspektasi pasar, serta mempertahankan kredibilitas fiskal demi menjaga stabilisasi mata uang nasional.

"Jika tekanan global kembali meningkat, rupiah berpotensi kembali mendekati level Rp 17.700 per dolar AS," kata Rizal.

Untuk perdagangan hari Jumat (22/5), mata uang domestik diproyeksikan akan bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.550 hingga Rp17.750 per dolar AS. Tingkat volatilitas ke depan diperkirakan masih tinggi karena pelaku pasar terus mengevaluasi efektivitas kebijakan BI Rate terhadap pertumbuhan ekonomi serta memantau pergerakan pasar obligasi dan saham.

Artikel terkait

Rekomendasi