Nilai tukar rupiah ditutup merosot sebesar 47 poin ke level Rp 17.716 per dolar Amerika Serikat pada akhir perdagangan hari Jumat, 22 Mei 2026. Penurunan ini terjadi setelah mata uang Indonesia tersebut dibuka melemah 16 poin atau 0,09 persen di posisi Rp 17.683 per dolar Amerika Serikat seperti dilansir dari Investor Daily.
Kondisi eksternal menjadi pemicu berlanjutnya tekanan terhadap mata uang garuda karena para pelaku pasar meragukan kelanjutan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi oleh Pakistan. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengonfirmasi bahwa situasi tersebut memengaruhi pergerakan kurs.
"Isu uranium juga kemungkinan masih akan terus menjadi permasalahan," kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.
Tekanan geopolitik ini diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah yang memicu akselerasi inflasi di tingkat global. Pergerakan inflasi dipantau ketat oleh otoritas moneter dunia sebagai basis penentuan kebijakan suku bunga acuan ke depan.
"Di sisi lain kita juga melihat bahwa ekonomi global terus memanas akibat kenaikan harga minyak yang berdampak terhadap lonjakan inflasi," lanjut Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.
Kebijakan pengetatan moneter di luar negeri berpotensi dipertahankan demi meredam gejolak harga tersebut. Langkah bank sentral global diperkirakan turut mempertahankan tren suku bunga tinggi yang menekan nilai tukar negara berkembang.
"Ada kemungkinan sampai akhir tahun bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin," jelas Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.
Faktor domestik ikut andil memengaruhi sentimen pasar menyusul pidato Presiden Prabowo Subianto di DPR RI yang dianalisis oleh S&P Global. Lembaga internasional tersebut memproyeksikan adanya potensi koreksi pada peringkat utang luar negeri Indonesia akibat pengelolaan anggaran.
"Karena kita melihat bahwa masalah defisit fiskal yang kemungkinan melebar menjadi salah satu penyebab penurunan rating," papar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Mata Uang.