Rupiah Melemah ke Rp17.353 Akibat Ketegangan Global dan Harga Minyak

Rupiah Melemah ke Rp17.353 Akibat Ketegangan Global dan Harga Minyak
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.353 Akibat Ketegangan Global dan Harga Minyak.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup merosot ke posisi Rp17.353 pada perdagangan Kamis (30/4/2026) seiring penguatan indeks dolar global. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam stabilitas pasokan energi dunia, sebagaimana dilansir dari Market.

Kondisi pasar menunjukkan mata uang garuda menyusut sebesar 27 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.326 per dolar AS. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa sentimen luar negeri menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah saat ini.

Ibrahim memaparkan bahwa rencana Presiden AS Donald Trump untuk melakukan blokade angkatan laut terhadap Iran memicu kekhawatiran besar. Hal ini diperburuk oleh pertemuan Trump dengan sejumlah eksekutif minyak di Gedung Putih guna membahas strategi pembatasan dampak konflik bagi warga Amerika. Blokade tersebut berpotensi dibalas Iran dengan menutup Selat Hormuz, yang merupakan jalur krusial bagi distribusi minyak global.

Hambatan pembicaraan nuklir antara kedua negara turut menambah ketidakpastian pasar karena belum adanya titik temu mengenai aktivitas nuklir Iran. Di sisi lain, dinamika kepemimpinan Federal Reserve juga menjadi perhatian setelah Jerome Powell memberikan ucapan selamat kepada Kevin Warsh yang lolos tahap awal untuk menggantikan posisinya sebagai Ketua Fed.

Tekanan dari sektor internal muncul akibat lonjakan harga minyak mentah dunia, di mana Brent Crude Oil mencapai US$122 per barel dan WTI berada di posisi US$108 per barel. Tingginya harga minyak ini meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk pembelian minyak mentah yang mencapai 1,5 juta barel per hari, sehingga menguras ketahanan fiskal dan menambah beban subsidi pada APBN 2026.

Asumsi APBN 2026 awalnya mematok harga minyak pada level US$70 per barel, namun realita harga saat ini telah melampaui US$100 per barel. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan dapat menambah beban subsidi dan kompensasi energi nasional antara Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

"Selain itu, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik. Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.

Artikel terkait

Rekomendasi