Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah ke posisi Rp17.326 pada penutupan perdagangan Rabu (29/4/2026). Pergerakan ini terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS dan ketidakpastian pasar global yang dipicu oleh dinamika produsen minyak mentah serta kebijakan moneter Amerika Serikat.
Dilansir dari Market, pelemahan mata uang Garuda ini dilaporkan mencapai 0,20 persen atau sekitar 34,08 poin. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk keputusan Uni Emirat Arab untuk keluar dari kelompok produsen minyak OPEC yang berdampak pada stabilitas pasar energi dunia.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa penyusutan nilai rupiah ini dipengaruhi oleh sikap pasar yang mempertimbangkan gangguan pasokan minyak di Timur Tengah. Selain hengkangnya UEA dari OPEC, rencana perpanjangan blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat turut memperburuk kekhawatiran pelaku pasar.
Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa saat ini investor sedang mencermati keputusan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve, yang dijadwalkan rilis pada Kamis dini hari pukul 01.00 WIB. The Fed diprediksi tetap mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Dari faktor domestik, Ibrahim menyoroti masalah kriminalisasi kebijakan publik yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menilai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen sulit dicapai jika ketidakpastian hukum masih menghantui para pengambil keputusan di pemerintahan.
"Ketidakpastian hukum yang ditimbulkan membuat para pengambil keputusan cenderung berhati-hati secara berlebihan, bahkan enggan bertindak," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Selain masalah kebijakan, lembaga pemeringkat Fitch Ratings juga memberikan sorotan terhadap pembentukan Danantara. Hal ini menjadi salah satu poin krusial yang menyebabkan Fitch memangkas outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Maret 2026 lalu karena isu tata kelola.
Penurunan prospek tersebut berkaitan dengan laporan keuangan yang dianggap terlalu terkonsentrasi karena Danantara bertanggung jawab langsung kepada presiden. Kondisi ini menambah daftar sentimen negatif yang mempengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi Indonesia di pasar internasional.
"Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp. 17.320- Rp.17.380 per dolar AS," tutur Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures.
Berdasarkan data perdagangan terakhir, mata uang rupiah terpantau sempat bergerak fluktuatif sebelum akhirnya mengonfirmasi pelemahan. Data pasar menunjukkan depresiasi rupiah berada pada rentang 0,14 persen hingga 0,20 persen sepanjang hari perdagangan tersebut.