Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah sebesar 0,01 persen ke posisi Rp16.981 per US$ pada perdagangan Senin (30/3/2026) pukul 09.02 WIB, dilansir dari Investortrust.
Pelemahan mata uang pada awal pekan ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, melainkan juga menimpa sejumlah negara mitra dagang seperti China yang melemah 0,09 persen, Hongkong 0,01 persen, Thailand 0,12 persen, dan India 0,89 persen.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan indeks dolar AS (DXY) bergerak stabil di kisaran 100 dan berpotensi menguat sekitar 0,3 persen secara mingguan akibat sentimen konflik Iran, kenaikan harga minyak, serta efeknya bagi inflasi global.
"Harga minyak diperdagangkan mendekati level tertinggi tahun 2022, dengan pasar bersiap menghadapi kemungkinan konflik berlanjut hingga April seiring serangan yang terus terjadi di Timur Tengah," kata Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri.
Kekhawatiran investor mengenai penyelesaian perang di Iran semakin mendalam setelah keterlibatan militan Houthi dari Yaman yang didukung Iran serta adanya pengerahan tambahan pasukan militer dari pihak Amerika Serikat ke wilayah konflik tersebut.
Pasar kini terus memantau indikasi deeskalasi konflik Timur Tengah di saat AS menunda serangan setelah akhir pekan, sementara penghentian aktivitas ekspor dari Teluk Persia berisiko mengganggu pertumbuhan ekonomi dunia.
Fokus pelaku pasar pekan ini juga tertuju pada rilis data ekonomi AS seperti laporan ketenagakerjaan dan survei ISM Manufaktur guna melihat dampak kenaikan biaya energi terhadap produsen barang di tengah masa libur Paskah.
Sentimen serupa berupa dampak lonjakan harga energi turut menjadi perhatian di Eropa lewat publikasi data inflasi Zona Euro, bersamaan dengan rilis PMI China serta risalah rapat moneter bank sentral BoJ, RBA, dan BoC.