Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada perdagangan Jumat (22/5/2026) akibat pengaruh kombinasi sentimen global dan kebijakan ekonomi domestik. Dilansir dari Investasi, mata uang Indonesia di pasar spot merosot 0,28 persen secara harian ke level Rp 17.717 per dolar AS.
Pelemahan ini menggenapi penurunan rupiah sebesar 0,68 persen dalam kurun waktu sepekan, setelah sebelumnya berada di posisi Rp 17.597 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah juga terkoreksi 0,24 persen secara harian ke angka Rp 17.717 per dolar AS, atau melemah 1,26 persen dalam sepekan dari posisi Rp 17.496 per dolar AS pada Rabu (13/5).
Kondisi pasar internasional dipengaruhi oleh langkah Presiden AS Donald Trump yang menunda serangan terhadap Iran demi membuka ruang negosiasi damai di Timur Tengah. Penundaan ini diiringi peringatan bahwa aksi militer akan kembali dipicu jika kesepakatan gagal dicapai, sementara penutupan sebagian Selat Hormuz tetap menjaga harga minyak di level tinggi.
Faktor global lain dipicu oleh rilis risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang mengisyaratkan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve (Fed) siap menaikkan suku bunga jika inflasi tetap melampaui target 2 persen. Pada pertemuan tersebut, FOMC mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
ÔÇ£Risalah tersebut menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat Fed tentang tekanan inflasi yang disebabkan oleh perang Iran,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang.
Dari dalam negeri, pergerakan mata uang Garuda dipengaruhi oleh langkah Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen guna menstabilkan nilai tukar dan menjaga target inflasi 2026-2027 di level 2,5 persen plus minus 1 persen. Sikap menghindari risiko dari para investor juga dipicu oleh kebijakan Presiden Prabowo yang memperketat ekspor komoditas utama seperti minyak sawit, batubara, dan ferro alloy melalui satu eksportir milik negara.
Sentimen pasar dalam sepekan ke depan diperkirakan masih tertuju pada rilis data ekonomi AS seperti inflasi inti (Core PCE), pertumbuhan ekonomi, dan ketenagakerjaan, di samping dinamika geopolitik internasional.
ÔÇ£Pelaku pasar akan memantau negosiasi Amerika Serikat - Iran, potensi gangguan di Selat Hormuz, serta pergerakan harga minyak dunia yang dapat mempengaruhi sentimen risiko global dan penguatan dolar AS,ÔÇØ ucap Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX.
Langkah lanjutan dari Bank Indonesia pasca Rapat Dewan Gubernur (RDG) 19ÔÇô20 Mei 2026 akan menjadi fokus perhatian pelaku pasar berikutnya demi meredam volatilitas global. Amru memproyeksikan pergerakan rupiah sepekan ke depan akan tertekan terbatas pada kisaran Rp 17.650 ÔÇô Rp 17.850 per dolar AS, sedangkan Ibrahim memperkirakan rentang pergerakan berada di angka Rp 17.680 ÔÇô Rp 17.800 per dolar AS.