Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sebesar 18 poin atau 0,11 persen ke level Rp 16.664 pada perdagangan Senin (15/12/2025). Penurunan ini terjadi seiring sikap waspada pasar terhadap rilis data ekonomi AS sebagaimana dilansir dari Investortrust.
Tren pelemahan mata uang tidak hanya dialami rupiah, namun juga terjadi pada rupee India yang turun 0,06 persen dan poundsterling Britania Raya sebesar 0,03 persen. Sebaliknya, sejumlah mata uang lain seperti yen Jepang, ringgit Malaysia, dan yuan China terpantau menguat terhadap dolar AS.
Andry Asmoro, Kepala Ekonom Bank Mandiri, memberikan penegasan bahwa sikap hati-hati para investor dipicu oleh pemantauan terhadap data penjualan ritel Oktober 2025 dan inflasi November 2025. Selain itu, pelaku pasar juga mencermati laporan PMI Manufaktur AS dari S&P Global untuk periode Desember 2025.
Arah kebijakan suku bunga bank sentral AS turut menjadi faktor krusial bagi pergerakan pasar. Presiden Chicago Fed, Austan Goolsbee, menyatakan bahwa para pembuat kebijakan perlu melihat lebih banyak data sebelum melakukan langkah pemangkasan suku bunga lanjutan.
"para pembuat kebijakan seharusnya menunggu lebih banyak data sebelum kembali memangkas suku bunga." kata Austan Goolsbee, Presiden Chicago Fed.
Goolsbee sebelumnya telah memberikan dukungan terhadap pemotongan suku bunga acuan pada pertemuan periode September dan Oktober. Kendati demikian, ia menyoroti risiko dari percepatan kebijakan yang terlalu dini dalam menghadapi dinamika inflasi.
"Dia mengaku tak nyaman dengan pemangkasan suku bunga yang terlalu cepat di awal, atau front-loading, dan asumsi kemajuan inflasi terbaru bersifat sementara." ujar Austan Goolsbee, Presiden Chicago Fed.
Fokus pasar kini tertuju pada pidato pejabat The Fed serta pengumuman keputusan suku bunga dari bank sentral Eropa, Inggris, dan Jepang. Adapun nilai tukar rupiah untuk perdagangan selanjutnya diproyeksikan bakal berfluktuasi pada rentang Rp 16.620 hingga Rp 16.678 per dolar AS.