Nilai tukar rupiah di pasar spot exchange kembali menunjukkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat pagi, 22 Mei 2026 pukul 9.05 WIB, mata uang Indonesia ini melemah sebesar 16 poin atau 0,09 persen ke posisi Rp 17.683 per dolar AS.
Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, di mana kurs rupiah pada Kamis (21/5) ditutup merosot 13 poin setelah sempat menyentuh level penurunan hingga 30 poin di angka Rp 17.667. Di sisi lain, indeks dolar AS pagi ini terpantau turun tipis 0,02 persen ke posisi 99.236, seperti dilansir dari Investor Daily.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama penguatan mata uang Negeri Paman Sam tersebut. Dikutip dari CNBC International, ketidakpastian mengenai kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran sempat mendorong dolar AS melesat ke level tertinggi dalam rentang waktu enam pekan terakhir.
Sebelumnya, indeks dolar AS merangkak naik 0,3 persen menuju 99,43 yang berdampak pada pelemahan mata uang global lainnya. Euro tercatat turun 0,34 persen menjadi US$ 1,1589 per dolar AS, disusul poundsterling Inggris yang melemah 0,21 persen ke level US$ 1,3402 per dolar AS, serta yen Jepang yang terkoreksi 0,17 persen menjadi 159,19 per dolar AS.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah juga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global yang berpotensi melambungkan inflasi inti di AS. Prospek pertumbuhan ekonomi AS yang tetap solid turut membuka peluang bagi Federal Reserve untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneter, di saat negara-negara lain menghadapi perlambatan ekonomi.
Direktur strategi FICC di CIBC Capital Markets di Toronto, Noah Buffam memberikan analisis terkait situasi pasar saat ini.
ÔÇ£Kita hampir tiga bulan sejak dimulainya guncangan harga minyak dan biasanya saat itulah pertumbuhan global mulai sedikit memburuk, jadi kami agak ragu-ragu terhadap mata uang yang terpapar pertumbuhan global,ÔÇØ kata Noah Buffam.
Ketahanan ekonomi domestik AS kian dipertegas oleh rilis data ketenagakerjaan terbaru yang menunjukkan penurunan jumlah pengajuan klaim tunjangan pengangguran. Situasi pasar tenaga kerja yang kokoh ini memberikan keleluasaan lebih bagi bank sentral AS untuk mengendalikan laju inflasi yang sedang meningkat.