Rupiah Melemah ke Rp17.339 akibat Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak

Rupiah Melemah ke Rp17.339 akibat Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.339 akibat Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat melemah ke level Rp17.339 pada pembukaan perdagangan Senin (4/5/2026) pagi. Penurunan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah global yang memberikan tekanan besar pada stabilitas ekonomi domestik.

Berdasarkan data RTI Infokom yang dilansir dari Market pukul 09.23 WIB, mata uang Garuda terkoreksi 0,06 persen dari posisi pembukaan. Selama transaksi berjalan, nilai tukar terpantau bergerak fluktuatif pada rentang Rp17.303 hingga Rp17.339 per dolar AS.

Tren pelemahan ini juga dialami oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang tercatat turun 0,06 persen, dolar Singapura melemah 0,11 persen, dan baht Thailand merosot 0,49 persen, sementara won Korea dan dolar Taiwan justru berhasil menguat tipis.

Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kondisi eksternal menjadi faktor utama penekan rupiah. Rencana blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global yang lebih luas.

Sengketa nuklir antara kedua negara tersebut belum menemui titik temu meskipun gencatan senjata sempat diperpanjang. Di sisi lain, isu independensi bank sentral AS mencuat setelah Ketua Fed Jerome Powell memberikan komentar terkait proses transisi kepemimpinannya kepada Kevin Warsh.

"Dia mengatakan bahwa ia akan tetap menjabat sebagai gubernur sampai tekanan politik mereda, dan menambahkan bahwa independensi Fed berada dalam risiko." kata Ibrahim Assuaibi, Direktur Traze Andalan Futures.

Dari faktor internal, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent ke posisi US$122 per barel dan WTI ke US$108 per barel meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor. Kondisi ini diproyeksikan akan membebani neraca transaksi berjalan dan ketahanan fiskal Indonesia.

Pemerintah menghadapi tantangan berat karena asumsi harga minyak dalam APBN 2026 hanya dipatok pada angka US$70 per barel. Setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel diperkirakan menambah beban subsidi energi antara Rp10 triliun hingga Rp13 triliun per tahun.

"Selain itu, dampak kebijakan MSCI yang menahan aliran dana asing, membuat mata uang rupiah tertekan di tengah kombinasi sentimen global, tekanan makro, dan dinamika domestik. Keputusan tersebut membuka potensi keluarnya dana asing atau outflow hingga Rp15 triliun," katanya.

Artikel terkait

Rekomendasi