Rupiah Tembus Rp17.600 Akibat Konflik AS-Iran dan Cadangan Devisa Turun

Rupiah Tembus Rp17.600 Akibat Konflik AS-Iran dan Cadangan Devisa Turun
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.600 Akibat Konflik AS-Iran dan Cadangan Devisa Turun.

Nilai tukar rupiah merosot hingga menembus level psikologis Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (15/5/2026) akibat eskalasi konflik geopolitik di Selat Hormuz. Pelemahan ini terjadi seiring menyusutnya cadangan devisa nasional yang dialokasikan untuk stabilisasi kurs dan pembayaran utang luar negeri.

Dilansir dari Suara, mata uang Garuda sempat menyentuh angka terendah di level Rp17.612 per dolar AS sebelum bergerak di kisaran Rp17.579 pada Jumat pagi. Tekanan terhadap rupiah ini berdampak langsung pada pengurasan cadangan devisa (cadev) yang tercatat merosot menjadi USD146,2 miliar pada akhir April 2026.

Penurunan cadangan devisa sebesar USD2 miliar dalam satu bulan tersebut disebabkan oleh fokus Bank Indonesia (BI) yang terbagi antara intervensi pasar dan kewajiban finansial negara lainnya. BI kini dilaporkan mulai menghadapi keterbatasan ruang intervensi untuk menahan laju depresiasi mata uang nasional.

"Kita terus berupaya segala cara untuk menguatkan nilai tukar, tetapi ada batasnya. Karena cadangan devisa kita tidak hanya untuk menstabilkan rupiah tetapi juga untuk hal lain, salah satu yang paling menjadi perhatian utama saat ini adalah kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah yang mulai jatuh tempo," ujar sumber Suara.

Bank sentral bersikap waspada agar posisi cadangan devisa tidak jatuh ke bawah ambang batas aman di tengah tekanan global yang masif. Prioritas pembagian dana devisa dilakukan guna menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang secara menyeluruh.

"Cadangan devisa kita sudah dibagi-bagi peruntukkannya, ini buat ini, ini buat itu dan lain sebagainya, jika kami hanya fokus di rupiah, cadangan devisa kita bisa dibawah USD100 miliar," papar sumber tersebut.

Di sisi fiskal, total utang pemerintah per 31 Maret 2026 mencapai Rp9.920,42 triliun dengan rasio 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sebagian besar utang tersebut didominasi oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp8.652,89 triliun atau 87,22 persen dari total komposisi.

Lonjakan kurs dolar yang melampaui asumsi makro APBN 2026 sebesar Rp16.500 diperkirakan mendongkrak beban pembayaran pokok dan bunga utang luar negeri sekitar 5 hingga 6 persen. Kondisi ini mempersempit ruang belanja negara karena adanya selisih kurs yang signifikan.

Pengamat pasar keuangan, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang melumpuhkan jalur logistik global. Penghentian transportasi minyak di Selat Hormuz memicu lonjakan indeks dolar AS karena investor mencari aset aman.

"Permasalahan gejolak geopolitik di Timur Tengah ini masih terus dijadikan sebagai momok, terutama di Selat Hormuz. Saat ini sekitar 20 persen transportasi minyak global terhenti total. Hal ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang pada gilirannya mendorong penguatan indeks dolar AS secara global," jelas Ibrahim Assuaibi.

Kenaikan harga minyak dunia memperkuat dominasi dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selama ketegangan geopolitik belum mereda, tekanan terhadap pasar keuangan domestik diproyeksikan masih akan tetap tinggi dalam jangka pendek.

Artikel terkait

Rekomendasi