Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penurunan terhadap dolar Amerika Serikat pada awal perdagangan hari Selasa (19/5/2026) hingga sempat menyentuh level Rp 17.718 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan mata uang Garuda tersebut mencapai 0,06 persen saat dibuka pada level Rp 17.679 per dolar Amerika Serikat, melorot dari penutupan sebelumnya di posisi Rp 17.668, sebagaimana dilansir dari Nasional.
Tekanan terhadap mata uang nasional terpantau semakin dalam hingga pukul 10.00 WIB dengan koreksi sebesar 0,28 persen dalam sehari, yang memicu respons dari otoritas moneter tertinggi.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan kepastian mengenai kondisi ketahanan finansial dalam negeri dengan menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang kuat dan memadai untuk menjaga stabilitas makroekonomi nasional.
Jumlah cadangan devisa negara pada akhir April 2026 dilaporkan terdokumentasi sebesar US$ 146,2 miliar, yang dinilai masih sangat mumpuni dalam menopang sistem keuangan dari guncangan global.
ÔÇ£Posisi cadangan devisa pada akhir April 2026 sebesar US$ 146,2 miliar tetap kuat dan memadai dalam mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional,ÔÇØ ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Kapasitas cadangan devisa tersebut setara dengan sekitar 114 persen dari standar kecukupan internasional yang ditetapkan oleh International Monetary Fund, yang membuktikan solidnya ketahanan eksternal domestik.
Pihak bank sentral juga memastikan langkah pengelolaan dana devisa ke depan akan terus dilakukan secara hati-hati demi membentengi mata uang dalam negeri dari ketidakpastian global.
ÔÇ£Bank Indonesia senantiasa mengelola cadangan devisa secara terukur guna mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global,ÔÇØ tandas Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.