Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami depresiasi hingga menyentuh level Rp17.500 pada Selasa (12/5/2026) siang, yang memicu kekhawatiran para pelaku usaha terkait lonjakan biaya impor bahan baku. Dilansir dari Ekonomi, kondisi ini memberikan tekanan berat pada sektor manufaktur, pangan, hingga pertambangan yang memiliki ketergantungan tinggi pada komoditas luar negeri.
Data Trading Economics menunjukkan mata uang Garuda melemah sebesar 0,46 persen atau turun 79,4 poin ke posisi Rp17.500,4 per dolar AS. Secara akumulatif, angka tersebut mencerminkan penurunan nilai sebesar 2,18 persen dalam satu bulan terakhir atau terdepresiasi 5,39 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.
Ketua Komite Tetap Kajian Hilirisasi dan Investasi Kadin Indonesia, Chandra Wahjudi, menjelaskan bahwa ketergantungan industri nasional pada barang modal dan bahan baku impor membuat biaya produksi naik secara otomatis saat nilai tukar melemah.
"Industri Indonesia masih bergantung pada impor bahan baku dan barang modal. Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik secara otomatis. Kenaikan beban utang korporasi dalam dolar AS, perusahaan dengan pinjaman dolar AS menghadapi kenaikan kewajiban pembayaran yang signifikan," katanya.
Chandra menambahkan bahwa sejumlah sektor spesifik seperti logistik laut dan pangan menjadi yang paling terdampak oleh fluktuasi ini. Menurutnya, perusahaan perlu mengambil langkah mitigasi melalui pengelolaan inventaris dan renegosiasi kontrak pembayaran guna menjaga stabilitas operasional.
"Langkah antisipasi yang bisa dilakukan antara lain hedging dan natural hedging, mengunci kurs untuk pembayaran impor. Melakukan renegosiasi kontrak seperti revisi harga dan termin pembayaran. Melakukan efisiensi operasional dan mengoptimalisasi inventory," ujarnya.
Senada dengan Kadin, Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani menyoroti bahwa posisi rupiah saat ini telah mencapai level psikologis baru yang perlu direspons secara terkoordinasi oleh seluruh pihak terkait. Ia menilai pelemahan ini merupakan dampak dari dinamika global, termasuk kenaikan yield US Treasury dan eskalasi konflik geopolitik yang mendorong pelarian modal ke aset dolar AS.
"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri," katanya.