Penulis : Leonard AL Cahyoputra 19 Mei 2026 | 22:24 WIB
Ilustrasi suku bunga. (Sumber: CIMB Niaga)
JAKARTA,Investor.id -Rupiah memasuki titik yang tidak bisa lagi dianggap sebagai pelemahan biasa. Dengan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pada 19ÔÇô20 Mei 2026, bank sentral diharapkan dapat menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin atau dari 4,75% menjadi 5%.
Peneliti Ekonomi Great Institute Ani Asriyah menerangkan, suku bunga acuan telah bertahan di level 4,75% sejak September 2025, tetapi tekanan terhadap rupiah belum mereda. Dalam kondisi seperti ini, intervensi valas semata tidak lagi memadai, dan setiap penundaan hanya akan memperbesar biaya stabilisasi yang pada akhirnya harus ditanggung perekonomian nasional.
ÔÇ£Keputusan menaikkan BI-Rate kini merupakan langkah korektif yang diperlukan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneter dan menahan depresiasi rupiah agar tidak menjalar lebih luas ke inflasi impor, pasar obligasi, dan persepsi risiko investor,ÔÇØ ucap dia dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ani mengatakan, Bank Indonesia perlu menunjukkan sinyal yang tegas bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi prioritas. Dalam situasi seperti sekarang, kenaikan BI-Rate 25 basis poin merupakan langkah korektif yang prudent untuk menahan depresiasi rupiah agar tidak berkembang menjadi dislokasi yang lebih mahal bagi perekonomian.
Tekanan terhadap rupiah tidak dapat dilepaskan dari dinamika global, khususnya kebijakan moneter The Federal Reserve yang masih mempertahankan pendekatan higher for longer. Kondisi ini menyebabkan diferensial suku bunga antara negara maju dan berkembang menjadi faktor krusial dalam menentukan arah aliran modal global.
Dia mengatakan, fenomena ini mencerminkan dilema impossible trinity, di mana otoritas moneter harus menyeimbangkan antara stabilitas nilai tukar, independensi kebijakan moneter, dan keterbukaan arus modal. Indonesia, sebagai bagian dari emerging markets, menghadapi tekanan yang lebih besar karena sensitivitas terhadap perubahan sentimen global dan volatilitas capital flow.
Menurut Ani, intervensi di pasar spot, DNDF, dan instrumen valas lainnya tetap penting, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya garis pertahanan. Penurunan cadangan devisa dari US$ 148,2 miliar pada akhir Maret menjadi US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026 menunjukkan bahwa strategi stabilisasi memang sedang bekerja, tetapi juga mengandung biaya yang tidak kecil. ÔÇ£Bank Indonesia sendiri menyebut penurunan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,ÔÇØ ucap dia.
Ani menerangkan, kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, secara mekanisme transmisi moneter, kenaikan ini akan meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik, sehingga berpotensi menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Di sisi lain, yang tidak kalah penting, kebijakan ini berperan sebagai policy signalling yang dapat membentuk ekspektasi pasar.
ÔÇ£Dalam situasi ketidakpastian tinggi, ekspektasi sering kali menjadi determinan utama dalam pergerakan nilai tukar, sehingga langkah kecil namun kredibel dapat menghasilkan dampak yang signifikan dalam jangka pendek.,ÔÇØ tutur Ani.
Meski demikian, ada beberapa trade off yang perlu diwaspadai pemerintah. Dia mengatakan, kenaikan suku bunga dapat menahan laju investasi dan konsumsi berbasis kredit dalam jangka pendek. Namun dalam situasi kurs yang sudah tertekan sedalam ini, biaya dari tidak bertindak bisa jauh lebih besar. ÔÇ£Pelemahan rupiah yang berlanjut berisiko memicu imported inflation, memperbesar beban utang valas, dan memperburuk persepsi risiko investor terhadap Indonesia,ÔÇØ papar dia.
Dalam pandangan Great Institute, kenaikan BI-Rate 25 basis poin akan memberi sedikitnya empat manfaat. Pertama, memberi sinyal tegas bahwa Bank Indonesia tetap independen dan kredibel dalam menjaga stabilitas rupiah.
Kedua, memperbaiki daya tarik imbal hasil aset keuangan domestik untuk membantu menopang aliran masuk portofolio. Ketiga, mengurangi beban intervensi valas yang selama ini terus digunakan untuk meredam tekanan kurs.
Keempat, menekan risiko rambatan depresiasi rupiah ke inflasi dan pasar keuangan domestik. Pengetatan ini juga tidak harus dibaca sebagai perubahan total arah kebijakan, karena Bank Indonesia tetap dapat mempertahankan stance makroprudensial yang akomodatif untuk menopang kredit dan sektor riil, sebagaimana ditekankan dalam RDG April 2026.
Editor: Leonard
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Top Berita Ekonomi Hari Ini, Selasa 19 Mei 2026
LPEM UI Sebut BI-Rate Perlu Naik usai Rupiah Tembus Rp 17.700
Ekonom Bank Permata Prediksi BI-Rate Naik 25 Bps Jadi 5%
Pergerakan Rupiah Siap-siap Menuju Level Ini
Macroeconomy 4 menit yang lalu BI Disarankan Naikkan Suku Bunga BI diharapkan dapat menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin atau dari 4,75% menjadi 5%.
Macroeconomy 34 menit yang lalu Prabowo Pangkas Anggaran MBG Jadi Rp 268 Triliun Pemerintah pangkas anggaran MBG dari 335 triliun menjadi Rp 268 triliun pada 2026, demi efisiensi tanpa mengurangi manfaat program.
National 35 menit yang lalu BSI Buka Kembali Beasiswa untuk 5.250 Mahasiswa dan Pelajar BSI melalui program BSI Scholarship kembali membuka akses pendidikan bagi ribuan generasi muda Indonesia.
Business 45 menit yang lalu Amran Pecat ASN Kementan yang Diduga Main Proyek, Kini Berstatus DPO Mentan Amran umumkan telah memecat satu nama ASN dari lingkungan Kementan karena terlibat mafia proyek pertanian, kini statusnya buron.
Business 59 menit yang lalu Indonesia Kekurangan 3 Juta Talenta Digital di 2030 Indonesia diprediksi kekurangan 3 juta talenta digital pada 2030. Binus University menjawab tantangan ini.