Rupiah Tembus Rp17.409 per Dolar AS Picu Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja

Rupiah Tembus Rp17.409 per Dolar AS Picu Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.409 per Dolar AS Picu Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja.

Nilai tukar rupiah menyentuh level terendah sepanjang sejarah di angka Rp17.409 per dolar AS pada Selasa, 5 Mei 2026. Pelemahan ini memicu lonjakan biaya operasional industri nasional serta meningkatkan risiko gagal bayar utang valuta asing bagi korporasi yang bergantung pada bahan baku impor, sebagaimana dilansir dari Suara.

Kondisi keuangan perusahaan saat ini diperkirakan semakin tertekan akibat depresiasi nilai tukar yang sangat tajam. Dampak langsung terlihat pada kenaikan harga komponen produksi luar negeri yang harus dibayar menggunakan dolar AS, sehingga mengancam stabilitas arus kas internal berbagai sektor usaha.

Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi menyoroti risiko besar bagi pelaku usaha yang memiliki beban utang dalam mata uang asing. Menurutnya, ketidakpastian global yang berkelanjutan semakin memperburuk ketahanan finansial perusahaan-perusahaan di dalam negeri.

ÔÇ£Jadi dalam kondisi kayak gini, ya banyak bakal perusahaan-perusahaan yang gagal bayar,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia juga menjadi perhatian karena berpotensi menambah beban pinjaman perbankan bagi korporasi. Situasi ini dinilai menciptakan tekanan berlapis bagi struktur biaya industri manufaktur.

ÔÇ£Terutama, apalagi nanti pada saat Bank Indonesia menaikkan suku bunga, ya berarti akan berdampak terhadap kenaikan ini kan, kredit kan,ÔÇØ ujarnya Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Ibrahim menjelaskan bahwa ketergantungan industri pada barang modal impor menjadikan efisiensi sebagai langkah yang tidak terhindarkan. Penyesuaian ini mencakup pengurangan kapasitas produksi hingga pembatasan rencana ekspansi bisnis dalam jangka pendek.

ÔÇ£Karena produk-produk dasar dalam pabrikan, dalam produksi tersebut, barang-barang impor. Pada saat barang impor ini mengalami kenaikan, ya pasti efisiensi,ÔÇØ kata Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Meskipun saat ini perusahaan masih berupaya bertahan, bayang-bayang pengurangan tenaga kerja diprediksi akan menjadi nyata dalam waktu dekat. Jika tren pelemahan rupiah tidak segera melandai, penyesuaian jumlah karyawan menjadi opsi terakhir yang sulit dihindari.

ÔÇ£Nah, untung, ya, tidak ada PHK (pemutusan hubungan kerja). Tapi saya lihat bahwa 3 bulan ke depan pasti akan ada PHK,ÔÇØ ucap Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Ketidakmampuan perusahaan dalam menahan lonjakan pengeluaran operasional menjadi faktor utama yang mendorong potensi PHK tersebut. Beban biaya tetap yang tinggi tidak sebanding dengan pemasukan yang cenderung melemah di tengah ketidakstabilan ekonomi.

ÔÇ£Karena apa? Perusahaan pun juga tidak akan kuat menahan biaya operasional,ÔÇØ katanya Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Di sisi lain, otoritas moneter dilaporkan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak merosot lebih dalam. Langkah-langkah intervensi di pasar valas dilakukan guna meredam volatilitas yang berlebihan.

ÔÇ£Kalau BI sih sudah cukup, sudah cukup masif ya dalam melakukan intervensi,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Pengamat Pasar Uang.

Artikel terkait

Rekomendasi