Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan cukup signifikan pada penutupan perdagangan Rabu, 29 April 2026. Mata uang Garuda berakhir di zona merah pada level Rp17.326 per dolar AS.
Koreksi ini mencatatkan pelemahan sebesar 0,48 persen dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya pada Selasa, 28 April 2026, yang berada di level Rp17.242. Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia mematok mata uang lokal di angka Rp17.324.
Dilansir dari Suara, pelemahan tajam ini justru terjadi saat indeks dolar AS (DXY) hanya mengalami kenaikan tipis. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa sentimen negatif lebih didominasi oleh faktor internal dari dalam negeri.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan ini mencerminkan tingginya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik. Kebijakan fiskal pemerintah terkait efisiensi anggaran menjadi poin krusial yang disoroti.
"Tekanan kuat pada rupiah lebih mencerminkan kekhawatiran domestik. Belum ada upaya pemerintah yang jelas untuk memangkas anggaran yang dianggap tidak mendesak, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujar Lukman.
Selain masalah anggaran, Lukman menyebut keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan turut memberikan beban. Penurunan Cadangan Devisa (Cadev) juga menjadi sentimen negatif yang memberatkan langkah rupiah di pasar uang.
Perbandingan Mata Uang Asia
Kelesuan nilai tukar tidak hanya dialami rupiah, melainkan hampir merata di kawasan Asia. Rupee India mencatatkan penurunan terdalam dengan anjlok 0,61 persen, disusul peso Filipina yang ambles 0,49 persen.
Baht Thailand juga terkoreksi 0,41 persen, diikuti won Korea Selatan yang tertekan 0,39 persen. Di sisi lain, yuan China justru menguat 0,09 persen sebagai mata uang dengan performa terbaik di Asia, diikuti ringgit Malaysia yang naik tipis 0,03 persen.
Pengaruh Harga Minyak dan Faktor Global
Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi ancaman karena memicu kekhawatiran inflasi global. Fokus pelaku pasar kini tertuju pada hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang diprediksi akan bersikap keras.
"Kepala The Fed diperkirakan akan memberikan pernyataan hawkish merespons kenaikan tinggi harga minyak mentah dunia. Secara umum, rupiah masih tertekan kecuali ada perkembangan positif seputar konflik di Timur Tengah dan retorika yang lebih melunak (less hawkish) dari The Fed," jelas Lukman.
Berdasarkan analisis teknikal dan fundamental, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tren konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Untuk perdagangan berikutnya, rupiah diprediksi bergerak dalam rentang Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS.