Rupiah Melemah ke Rp17.320 Per Dolar AS di Tengah Aksi Jual Asing

Rupiah Melemah ke Rp17.320 Per Dolar AS di Tengah Aksi Jual Asing
Foto: Ilustrasi Rupiah Melemah ke Rp17.320 Per Dolar AS di Tengah Aksi Jual Asing.

Nilai tukar rupiah menunjukkan tren pelemahan sepanjang tahun 2026 seiring dengan maraknya aksi jual yang dilakukan investor asing di pasar modal domestik. Berdasarkan data yang dilansir dari Market, rupiah pada perdagangan Kamis (7/5/2026) berakhir di posisi Rp17.320 per dolar AS atau menguat tipis 0,30 persen dari sesi sebelumnya.

Meskipun menguat pada penutupan kemarin, mata uang Garuda sempat mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah setelah melewati level psikologis Rp17.000 pada tahun ini. Fluktuasi harian pada periode perdagangan tersebut terpantau bergerak pada rentang harga Rp17.372 hingga Rp17.292 per dolar AS.

Kondisi pasar obligasi turut memberikan tekanan besar terhadap pergerakan nilai tukar. Merujuk data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), imbal hasil atau yield acuan Surat Berharga Negara (SBN) berada di level 6,84 persen pada perdagangan Kamis (7/5/2026).

Angka yield tersebut menandakan adanya pelemahan sebesar 11,94 persen sejak awal tahun 2026 yang kala itu masih berada di level 6,11 persen. Kenaikan yield ini berbanding lurus dengan merosotnya harga SBN yang memicu para pemilik modal internasional untuk melepas aset mereka.

Hingga saat ini, total aksi jual bersih atau net sell investor asing di pasar SBN telah mencapai angka Rp12,12 triliun secara year-to-date (YtD). Hal ini membuat total kepemilikan asing di instrumen tersebut menyusut ke level Rp867,81 triliun.

Jika diperinci, instrumen Surat Utang Negara (SUN) menjadi aset yang paling banyak dilepas dengan nilai mencapai Rp11,62 triliun YtD. Di sisi lain, instrumen Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk mencatatkan net sell yang lebih rendah yaitu senilai Rp490 miliar.

Tekanan likuiditas asing mulai terasa signifikan sejak Maret 2026 setelah pasar modal menghadapi berbagai sentimen negatif pada bulan sebelumnya. Pembekuan rebalancing saham RI oleh MSCI Inc serta penurunan outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh MoodyÔÇÖs menjadi pemicu utamanya.

Eksodus dana asing kian deras setelah Fitch Ratings menyusul langkah Moody's dengan turut menurunkan outlook kredit Indonesia menjadi negatif pada April 2026. Data mencatat terjadi penguapan dana asing sebesar Rp23,79 triliun sepanjang periode Januari hingga April 2026 di pasar SBN.

Situasi serupa terjadi di pasar saham di mana investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp49,03 triliun secara YtD hingga Kamis (7/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun terparkir di posisi 7.174,32 atau telah menyusut 17,03 persen sepanjang tahun berjalan.

Kepala Unit Riset dan Market Informasi PHEI, Salvian Fernando, menjelaskan bahwa aksi jual di pasar SBN memiliki kaitan erat dengan pelemahan nilai tukar rupiah. Menurutnya, SBN merupakan instrumen pintu masuk utama bagi modal asing ke dalam negeri.

"Ketika investor asing melakukan penjualan SBN dalam jumlah besar, maka proses repatriasi dana dari rupiah ke dolar AS otomatis meningkatkan permintaan valas dan menekan nilai tukar rupiah," kata Salvian kepada Market, Kamis (7/5/2026).

Salvian menambahkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya bersumber dari faktor domestik seperti net sell di pasar SBN. Faktor eksternal berupa tingginya suku bunga global yang bertahan lebih lama atau higher for longer masih mendominasi sentimen pasar saat ini.

Gejolak geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, juga memaksa investor mencari aset aman atau safe haven. Hal ini mengakibatkan volatilitas pasar meningkat dan dana dialihkan dari negara berkembang seperti Indonesia.

PHEI memprediksi yield SBN masih akan bertahan di level tinggi setidaknya hingga pertengahan tahun 2026. Pergerakan yield ke depan sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga global, stabilitas mata uang, serta kemampuan pemerintah dalam menjaga persepsi fiskal.

"Apabila stabilitas rupiah mulai membaik, inflasi domestik tetap terkendali, serta terdapat ruang pelonggaran moneter global pada semester II/2026, maka yield SBN berpotensi mengalami normalisasi secara bertahap," ujar Salvian.

Artikel terkait

Rekomendasi