Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (27/1/2026). Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dikutip dari Investortrust, mata uang Garuda berada di posisi Rp16.801 per US$.
Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 0,13% jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Senin (26/1/2026). Pelemahan ini dipicu oleh sikap pasar yang cenderung berhati-hati menjelang keputusan penting bank sentral Amerika Serikat.
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat komoditas dan mata uang, menjelaskan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada pertemuan dua hari Federal Reserve. Pertemuan yang berakhir pada Rabu (28/1/2026) esok tersebut diprediksi akan menghasilkan keputusan untuk menahan suku bunga tetap stabil.
Selain faktor suku bunga, independensi The Fed juga menjadi sorotan setelah adanya perselisihan antara Presiden AS Donald Trump dengan Ketua The Fed Jerome Powell. Kondisi ini menambah ketidakpastian di pasar keuangan global.
Kekhawatiran mengenai potensi penutupan pemerintahan atau shutdown di Amerika Serikat turut menekan pergerakan pasar. Hal ini bermula dari ancaman senat Partai Demokrat untuk memblokir RUU Pendanaan pasca-insiden penembakan di Minneapolis.
"Para anggota parlemen AS menghadapi tenggat waktu pada 30 Januari untuk menghindari shutdown. Pasar prediksi Polymarket menunjukkan peluang penutupan melonjak tajam dari sekitar 8% pada hari Jumat menjadi hampir 78% pada hari Senin," kata Ibrahim.
Dari sisi domestik, Indonesia diprediksi menghadapi tantangan besar terkait pembiayaan utang pada tahun 2026. Meskipun target pembiayaan utang neto dalam RAPBN 2026 dipatok Rp832,21 triliun, kebutuhan penarikan utang bruto mencapai Rp1.650 triliun.
Kebutuhan dana yang besar tersebut diperuntukkan bagi penutupan defisit anggaran serta pelunasan pokok utang lama yang jatuh tempo. Situasi ini meningkatkan risiko pembiayaan kembali atau refinancing risk bagi pemerintah.
Risiko tersebut diperparah dengan tren rata-rata jatuh tempo utang (Average Time to Maturity) yang semakin memendek. Data menunjukkan ATM menurun dari 9,73 tahun pada 2014 menjadi perkiraan 7,7 tahun pada 2026 mendatang.
Pemerintah juga dihantui risiko kekurangan pendanaan akibat ketidakpastian ekonomi global yang membuat investor asing bersikap sangat waspada. Ketergantungan pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Saat ini, banyak investor asing dilaporkan masih mengambil posisi tunggu atau wait and see. Mereka tengah mencermati arah kebijakan fiskal Indonesia yang oleh sebagian pihak dinilai kurang menerapkan prinsip kehati-hatian.