Rupiah Sentuh Level Terendah Sepanjang Masa terhadap Dollar AS

Rupiah Sentuh Level Terendah Sepanjang Masa terhadap Dollar AS
Foto: Ilustrasi Rupiah Sentuh Level Terendah Sepanjang Masa terhadap Dollar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS merosot ke level terendah sepanjang masa pada penutupan pasar spot hari Senin (18/5/2026) akibat lonjakan harga minyak dunia yang memicu risiko inflasi global. Berdasarkan data Bloomberg yang dilansir dari Money, mata uang Garuda melemah 71 poin atau 0,40 persen ke posisi Rp 17.668 per dollar AS.

Kondisi pasar yang tertekan ini memicu imbauan dari para perencana keuangan agar masyarakat lebih cermat dalam mengatur strategi finansial. Pengelolaan arus kas yang sehat serta alokasi dana darurat menjadi prioritas utama sebelum memutuskan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri atau mendiversifikasi aset ke mata uang asing.

Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika menjelaskan bahwa bepergian ke luar negeri tetap dapat dilakukan dengan syarat kondisi keuangan keluarga tidak terganggu. Kesiapan finansial yang matang jauh lebih penting dibandingkan hanya berpatokan pada pergerakan kurs mata uang.

"Jadi, keputusan menunda atau tetap berangkat sebaiknya dilihat dari kesiapan finansial, bukan hanya dari kurs semata," kata Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Sebagai langkah antisipasi agar biaya perjalanan tidak membengkak, masyarakat disarankan menyusun anggaran yang lebih realistis dan membeli valuta asing secara bertahap. Pemilihan destinasi dengan kurs yang lebih rendah serta pembatasan belanja impulsif juga menjadi solusi efisien.

"Serta mengurangi pengeluaran impulsif selama traveling," tegas Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Jika kalkulasi anggaran liburan justru membebani arus kas atau memaksa masyarakat untuk mengambil utang konsumtif, penundaan perjalanan menjadi pilihan terbaik. Finansial pascaliburan harus tetap terjaga tanpa menimbulkan beban baru.

"Yang paling penting, jangan sampai liburan yang seharusnya menjadi hiburan justru menimbulkan tekanan finansial setelah pulang," ungkap Rista Zwestika, Perencana Keuangan and Founder Finante.id.

Mengenai tren menabung dollar AS yang marak saat rupiah melemah, langkah diversifikasi ini dinilai baik untuk kebutuhan jangka panjang seperti pendidikan luar negeri atau investasi global. Namun, strategi ini tidak selalu cocok untuk setiap keluarga dan tidak berarti seluruh simpanan harus dialihkan ke valas.

"Terutama untuk masyarakat yang memiliki rencana pendidikan luar negeri atau kebutuhan perjalanan internasional," kata Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Masyarakat perlu memastikan dana darurat dan kebutuhan rutin tetap terpenuhi dalam mata uang rupiah sebelum membuka rekening valas. Tujuan pemilikan dollar AS harus ditetapkan secara jelas sejak awal.

"Tentukan tujuan memiliki tabungan dollar, apakah untuk proteksi nilai aset, traveling, pendidikan, atau investasi," terang Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Untuk instrumen penyimpanan, masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas resmi perbankan seperti rekening atau deposito valas yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Pemilihan instrumen ini ditujukan sebagai alat perlindungan nilai aset masa depan.

"Prinsipnya, tabungan dollar lebih cocok dijadikan alat diversifikasi dan persiapan kebutuhan masa depan, bukan semata-mata untuk mengejar keuntungan dari selisih kurs," ucap Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Rista juga mengingatkan publik agar tidak mengambil tindakan finansial yang ekstrem akibat kepanikan sesaat. Fokus utama masyarakat harus tetap tertuju pada stabilitas rencana keuangan pribadi.

"Fokus utama tetap pada tujuan keuangan dan kebutuhan masing-masing," tutur Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Momentum kenaikan dollar AS ini dapat dimanfaatkan untuk diversifikasi aset secara berkala apabila dana darurat sudah dalam posisi aman. Penguatan dana cadangan tetap menjadi fondasi utama.

"Termasuk mempertimbangkan instrumen berbasis dollar AS secara bertahap," imbuh Rista Zwestika, Perencana Keuangan dan Founder Finante.id.

Pandangan serupa mengenai prioritas keuangan disampaikan oleh perencana keuangan Andi Nugroho yang menekankan pentingnya pengamanan kebutuhan pokok. Manajemen pengeluaran yang ketat wajib diterapkan jika penghasilan bulanan tergolong terbatas.

"Kalau memang penghasilan terbatas, kita mesti memanajemen pengeluaran yang benar-benar penting dan bersifat wajib dulu, prioritaskan di situ," ujar Andi Nugroho, Perencana Keuangan.

Penundaan pengeluaran non-pokok sangat disarankan apabila tidak ada urgensi yang mendesak. Masyarakat diminta untuk lebih mengutamakan aktivitas menabung di tengah ketidakpastian ekonomi.

"Kalau belum ada kepentingan ataupun keterdesakan, sebaiknya ditunda dulu. Jadi lebih banyak memang kita saving money (tabung) lah," imbuh Andi Nugroho, Perencana Keuangan.

Bagi masyarakat yang memiliki surplus dana, instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel seperti ORI dan Sukuk Ritel menjadi opsi investasi yang aman karena memiliki tingkat volatilitas rendah. Pilihan ini dinilai lebih stabil dibandingkan dengan menempatkan dana pada pasar saham.

"Dalam kondisi sekarang sih, kalau saya melihat surat utang negara kayak ORI maupun Sukuk Ritel itu justru yang paling aman, karena dia volatilitasnya enggak seekstrem kayak di pasar saham," ucap Andi Nugroho, Perencana Keuangan.

Selain SBN, reksa dana pasar uang menjadi alternatif yang direkomendasikan bagi investor pemula karena menawarkan likuiditas tinggi. Alokasi dana pada deposito dan surat utang jangka pendek membuat instrumen ini memiliki risiko yang relatif kecil.

"Alternatif lain misalnya yang enggak sabaran dengan pergerakan di obligasi kayak ORI, bisa pilih di reksadana yang berbasis pendapatan tetap ataupun di pasar uang. Yang cuan kan sekarang dua itu, terutama yang pasar uang," jelas Andi Nugroho, Perencana Keuangan.

Di sisi lain, pergerakan nilai tukar berdasarkan Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan rupiah berada di posisi Rp 17.666 per dollar AS. Angka tersebut mencerminkan pelemahan dari posisi sebelumnya yang berada pada level Rp 17.496 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa kejatuhan nilai tukar rupiah ini dipicu oleh keperkasaan indeks dollar AS di pasar global. Kenaikan harga energi dunia memperlambat proses disinflasi di negara paman sam tersebut.

ÔÇ£Penguatan dollar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi yang didorong oleh tingginya harga minyak yang memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama,ÔÇØ ujar Ibrahim Assuaibi, Analis Mata Uang dan Komoditas.

Kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve diproyeksikan bertahan lebih lama karena laju inflasi Amerika Serikat yang menjauh dari target 2 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi