Rupiah Tembus Rp17.507 Pelaku Usaha Siapkan Strategi Mitigasi

Rupiah Tembus Rp17.507 Pelaku Usaha Siapkan Strategi Mitigasi
Foto: Ilustrasi Rupiah Tembus Rp17.507 Pelaku Usaha Siapkan Strategi Mitigasi.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat merosot hingga menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (12/5/2026). Kondisi ini mendorong Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) segera menyiapkan langkah mitigasi guna menekan dampak pelemahan tersebut pada sektor riil.

Dilansir dari Ekonomi, mata uang Garuda dibuka melemah 0,48 persen ke posisi Rp17.498 per dolar AS pada pukul 09.15 WIB. Tren penurunan terus berlanjut hingga mencapai Rp17.507 per dolar AS pada pukul 11.30 WIB, yang menjadi rekor terendah baru bagi mata uang nasional.

Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengungkapkan bahwa pergerakan nilai tukar yang melampaui level psikologis Rp17.500 per dolar AS menjadi peringatan serius bagi para pelaku usaha di tanah air. Penurunan nilai ini dipicu oleh faktor eksternal seperti naiknya yield US Treasury dan ketegangan geopolitik global.

"Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan. Pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor, khususnya karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada bahan baku dari luar negeri," kata Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo.

Ketergantungan industri manufaktur terhadap pasokan luar negeri saat ini mencapai 70 persen, dengan porsi bahan baku menyumbang 55 persen dari total biaya produksi. Dampaknya, setiap pelemahan nilai tukar akan segera membebani harga input dalam denominasi rupiah bagi industri petrokimia, farmasi, hingga makanan dan minuman.

"Menyikapi kondisi ini, dunia usaha pada dasarnya melakukan penyesuaian strategi ke arah yang lebih prudent dan risk-adjusted," kata Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo.

Strategi pertumbuhan selektif kini menjadi pilihan utama para pengusaha dengan menunda investasi yang berisiko tinggi. Perusahaan lebih memprioritaskan efisiensi operasional dan optimalisasi modal kerja untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah fluktuasi pasar valuta asing yang tajam.

"Dari sisi antisipasi, perusahaan juga memperkuat strategi manajemen risiko secara lebih komprehensif. Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan, disertai dengan penataan struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing," ujar Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo.

Meskipun Bank Indonesia telah mempertahankan suku bunga pada level 4,75 persen, Shinta menilai stabilitas moneter saja tidak cukup untuk menghadapi tekanan sedalam ini. Sinergi antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil dianggap menjadi kunci utama untuk menjaga kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi nasional.

"Dunia usaha pada prinsipnya tetap berkomitmen untuk menjaga resiliensi, sekaligus menangkap peluang secara selektif. Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian," ungkap Shinta W. Kamdani, Ketua Umum Apindo.

Artikel terkait

Rekomendasi