Pasar keuangan domestik mengalami tekanan besar setelah nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah serentak pada Senin (18/5/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif global, termasuk penguatan dolar Amerika Serikat, inflasi energi, kebijakan The Fed, serta ketegangan geopolitik.
Pelemahan mata uang Garuda tercatat cukup signifikan dalam perdagangan pasar spot. Dilansir dari Investor Daily berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ambles 71 poin atau sekitar 0,4 persen menuju level Rp 17.668 per dolar AS, sementara indeks dolar AS justru turun tipis 0,07 persen ke level 99,21.
Kondisi depresiasi mata uang yang menembus level tersebut memicu reaksi keras dari parlemen dalam rapat kerja bersama Bank Indonesia. Anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio secara terbuka mendesak pimpinan bank sentral untuk meletakkan jabatannya sebagai bentuk tanggung jawab moral atas kemerosotan nilai tukar.
"BI sudah mengenyampingkan kredibilitas dan Anda sebagai pimpinan BI harus gentleman, harus berani melawan. Pak Perry yang saya hormati, kadang kalau kita mengambil tindakan gentleman ini bukan penghinaan. Mungkin sekarang saatnya Anda mengundurkan diri," tutur Primus.
Menanggapi desakan tersebut, pihak bank sentral memberikan penjelasan mengenai siklus pergerakan mata uang yang terjadi. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan bahwa penurunan nilai tukar ini merupakan dinamika musiman yang biasa terjadi pada triwulan kedua sebelum akhirnya berbalik menguat.
"Kalau Juli, Agustus, akan menguat, coba Juli, Agustus, September, akan naik. (Itu) kenapa kami masih yakin (rupiah bakal menguat), kalau tahun depan monggo kita diskusi," tutur Perry.
Di sisi lain, laporan riset terbaru dari BRI Danareksa Sekuritas mengonfirmasi bahwa posisi mata uang Garuda saat ini telah menyentuh proyeksi kondisi paling ekstrem. Meski nilai rupiah dianggap berada di bawah harga wajar, pelemahan kali ini dinilai bersifat struktural dan membutuhkan langkah penyesuaian suku bunga acuan minimal 25 basis points untuk menstabilkan pasar.
Kejatuhan di pasar mata uang turut menyeret performa pasar modal ke zona merah pada akhir perdagangan hari yang sama. Indeks Harga Saham Gabungan merosot 124,08 poin atau 1,85 persen ke posisi 6.599,2 dengan total nilai transaksi mencapai Rp 20,59 triliun, di mana sektor transportasi menjadi kontributor penurunan terdalam sebesar 6,2 persen.