Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Senin (11/5/2026) di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS. Dilansir dari Market, sentimen negatif ini dipicu oleh penguatan indeks dolar Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik geopolitik antara AS dan Iran.
Pergerakan mata uang Garuda tercatat telah mengalami tekanan signifikan pada penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya. Kondisi ini memperlihatkan sensitivitas pasar terhadap perkembangan isu internasional serta kebijakan moneter global yang belum stabil.
"Rupiah ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.359 per dolar AS," kata Ibrahim Assuaibi, Direktur PT Traze Andalan Futures pada Jumat (8/5/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menimbulkan kekhawatiran terkait keamanan jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute krusial bagi perdagangan minyak dan gas bumi internasional.
"Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya," katanya.
Selain faktor geopolitik, ketidakpastian mengenai arah suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve turut membayangi pasar. Perbedaan pandangan di internal pejabat The Fed membuat investor bersikap waspada terhadap durasi kebijakan suku bunga tinggi.
Dari sisi domestik, perhatian pasar tersedot pada kenaikan posisi utang pemerintah yang menembus angka Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026. Jumlah ini menunjukkan peningkatan hampir 3 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp9.637,9 triliun.
Posisi utang tersebut setara dengan 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), meskipun pemerintah mengeklaim angka ini masih berada di bawah batas aman internasional. Namun, tekanan fiskal semakin nyata setelah realisasi defisit anggaran mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB pada kuartal I/2026.