Rupiah Anjlok Tertekan Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak

Rupiah Anjlok Tertekan Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak
Foto: Ilustrasi Rupiah Anjlok Tertekan Penguatan Dolar dan Lonjakan Harga Minyak.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan besar dan melemah signifikan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Berdasarkan data Bloomberg di pasar spot exchange yang dilansir dari Investor Daily, mata uang Indonesia merosot hingga 76 poin atau sekitar 0,43 persen ke tingkat Rp 17.673 per dolar AS.

Kondisi kejatuhan kurs rupiah ini terjadi secara bersamaan dengan penguatan indeks dolar global yang merangkak naik sebesar 0,03 persen menuju posisi 99,31. Situasi pasar finansial juga diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang membebani sentimen perdagangan domestik.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa kombinasi faktor eksternal dan sentimen dalam negeri menjadi pemicu utama yang mendorong para investor untuk segera memindahkan aset mereka ke dalam bentuk dolar AS.

"Kenaikan dolar AS dan harga minyak mentah memberikan tekanan besar terhadap rupiah, terutama karena Indonesia masih memiliki ketergantungan impor minyak yang tinggi," ujar Ibrahim.

Menurutnya, lonjakan harga komoditas tersebut secara otomatis memperbesar beban biaya impor energi nasional yang saat ini diperkirakan mencapai kisaran 1,5 juta barel per hari. Peningkatan beban ini kemudian memicu lonjakan kebutuhan pasokan dolar AS di pasar domestik.

Dampak lebih lanjut terlihat dari tindakan masyarakat serta para pelaku pasar yang dilaporkan mulai aktif mengalihkan simpanan dana mereka dari mata uang rupiah ke valuta asing akibat kecemasan terhadap depresiasi yang berkelanjutan. Ibrahim kemudian menekankan perlunya strategi komunikasi yang tepat dari otoritas terkait.

"Pemerintah perlu memberikan langkah konkret terkait pengendalian krisis dan stabilitas ekonomi, terutama di tengah tekanan harga minyak dan ketidakpastian global," kata Ibrahim.

Performa dolar AS yang kian perkasa terhadap mayoritas mata uang utama dunia ini turut disokong oleh memanasnya situasi geopolitik global serta kenaikan yield obligasi AS. Saat ini, pergerakan volatilitas pasar keuangan global membuat pelaku pasar terus mengantisipasi kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia dan pemerintah.

Artikel terkait

Rekomendasi