Rupiah Anjlok ke Rp 17.900 per Dolar AS, Ada Apa? Ini Analisis Terbarunya 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.900 per Dolar AS, Ada Apa? Ini Analisis Terbarunya 2026
Foto: Rupiah Anjlok ke Rp 17.900 per Dolar AS, Ada Apa? Ini Analisis Terbarunya 2026. (Illustration by Pexels)

Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rapor merah pada perdagangan pagi ini, Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda terlihat semakin tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh level terendah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.26 WIB, rupiah terpantau melemah sebesar 0,39 persen ke posisi Rp17.900/US$. Angka ini menandai rekor all time low terbaru, sekaligus membawa rupiah semakin dekat dengan level psikologis baru di angka Rp18.000/US$.

Penyebab Utama Pelemahan Rupiah

Kondisi pasar keuangan yang fluktuatif ini dipicu oleh kombinasi tekanan dari faktor global dan domestik. Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memaparkan analisis mendalam mengenai situasi ini.

Beberapa faktor eksternal dan internal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar saat ini:

  • Ketegangan Geopolitik: Konflik yang masih berlanjut di wilayah Timur Tengah menciptakan ketidakpastian tinggi di pasar global.
  • Ketangguhan Ekonomi AS: Indeks Dolar AS (DXY) menguat tajam setelah data tenaga kerja terbaru menunjukkan ekonomi Amerika yang masih sangat solid.
  • Kebijakan The Fed: Kondisi ekonomi AS yang kuat memicu ekspektasi kebijakan hawkish, sehingga ruang bagi Bank Sentral AS untuk menurunkan suku bunga tahun ini semakin sempit.
  • Siklus Musiman Domestik: Pada kuartal kedua, terdapat peningkatan permintaan valuta asing untuk pembayaran dividen, bunga aset keuangan, serta utang luar negeri (ULN).
  • Kinerja Perdagangan: Surplus neraca perdagangan cenderung menyusut akibat tingginya permintaan impor untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah kenaikan harga barang global.

Poin-poin di atas menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari sentimen luar negeri, tetapi juga beban musiman yang rutin terjadi di dalam negeri setiap pertengahan tahun.

Proyeksi Rupiah Menjelang Level Rp18.000

Meskipun situasi saat ini cukup mengkhawatirkan, Faisal Rachman menilai rupiah masih berpeluang untuk tidak menembus batas psikologis Rp18.000/US$. Syarat utamanya adalah stabilitas kondisi global yang tetap terjaga dalam waktu dekat.

Pihaknya akan terus melakukan pemantauan ketat terhadap perkembangan pasar internasional. Jika kondisi global tidak segera menunjukkan tanda-tanda perbaikan, Faisal memperingatkan adanya risiko pelemahan yang bisa lebih dalam lagi dari posisi saat ini.

Ringkasan data perdagangan mata uang terbaru:

Indikator Keterangan
Posisi Kurs (09.26 WIB) Rp17.900/US$
Persentase Pelemahan 0,39%
Status Nilai Tukar All Time Low (Terendah Sejarah)
Sentimen Utama DXY Menguat & Musim Dividen

Tabel tersebut merangkum posisi terkini rupiah yang sedang berada dalam tekanan berat akibat penguatan indeks dolar dan faktor siklus ekonomi domestik.

Pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus waspada menghadapi guncangan pada rantai pasok global yang berimbas pada kenaikan harga barang impor. Kebijakan yang pro-pertumbuhan saat ini di sisi lain turut meningkatkan kebutuhan dolar untuk aktivitas impor nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi