Rupiah Ambles ke Rp 17.743 per Dolar AS pada 20 Mei 2026

Rupiah Ambles ke Rp 17.743 per Dolar AS pada 20 Mei 2026
Foto: Ilustrasi Rupiah Ambles ke Rp 17.743 per Dolar AS pada 20 Mei 2026.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat penurunan signifikan pada perdagangan Rabu pagi, 20 Mei 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.05 WIB di pasar spot exchange, mata uang garuda melemah sebesar 37 poin atau sekitar 0,21 persen ke posisi Rp 17.743 per dolar AS. Seperti dilansir dari Investor Daily, pelemahan ini terjadi saat indeks dolar AS merangkak naik tipis 0,05 persen menuju level 99.378.

Situasi ini memperpanjang tren negatif dari hari sebelumnya, di mana kurs rupiah pada Selasa ditutup jatuh 35 poin, setelah sempat menyentuh titik terendah dengan penurunan 70 poin di level Rp 17.703.

Dikutip dari CNBC International, kebangkitan indeks dolar AS dipicu oleh fokus para pelaku pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif oleh Federal Reserve demi meredam lonjakan inflasi di Negeri Paman Sam.

Langkah pengetatan moneter ini didukung oleh tingkat imbal hasil obligasi yang lebih tinggi, yang didorong oleh kecemasan pasar seputar inflasi serta ketidakpastian arah kebijakan dari Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.

Kondisi tersebut menekan mayoritas mata uang utama global lainnya. Mata uang euro terpantau melemah 0,38 persen menjadi US$ 1,1611 per dolar AS, diikuti oleh poundsterling Inggris yang terkoreksi 0,26 persen ke posisi US$ 1,3398 per dolar AS.

Dampak Terhadap Yen Jepang dan Sikap Pasar

Di Asia, yen Jepang turut mengalami depresiasi sebesar 0,14 persen terhadap dolar AS ke level 159,05. Pelemahannya tetap terjadi meskipun data produk domestik bruto Jepang menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 2,1 persen pada kuartal pertama 2026, yang sempat memperkuat proyeksi kenaikan suku bunga Bank Sentral Jepang pada Juni mendatang.

Mengenai dinamika ini, pelaku pasar melihat adanya perbedaan laju pengetatan moneter di berbagai belahan dunia yang menguntungkan posisi mata uang AS.

"Kita sekarang kembali ke fundamental, yaitu, apa yang terjadi dengan inflasi dan apa artinya bagi obligasi dan di mana posisi The Fed," kata Eric Theoret, seorang ahli strategi valuta asing di Scotiabank.

Menurut analisis Eric Theoret, para pelaku pasar saat ini memperkirakan bahwa kebijakan pengetatan moneter di kawasan Eropa dan Inggris tidak akan berjalan seagresif di AS, sehingga mendongkrak daya tarik dolar AS di pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi