Rosan Roeslani Tanggapi Penurunan IHSG Pasca Pembentukan Danantara

Rosan Roeslani Tanggapi Penurunan IHSG Pasca Pembentukan Danantara
Foto: Ilustrasi Rosan Roeslani Tanggapi Penurunan IHSG Pasca Pembentukan Danantara.

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani memberikan tanggapan terkait merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan setelah pendirian PT Danantara Sumberdaya Indonesia yang bertugas mengelola ekspor komoditas strategis nasional.

Dilansir dari Detik Finance, IHSG ditutup melemah 3,54 persen atau anjlok 233 poin ke level 6.094 pada perdagangan hari Kamis (21/5/2026), setelah hari sebelumnya juga ditutup melemah 0,82 persen ke level 6.318,50.

Penurunan indeks saham bahkan sempat menyentuh angka lebih dari 2 persen pada Rabu kemarin tepat saat Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato mengenai tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam.

Merespons situasi pasar tersebut, Rosan Roeslani menjelaskan bahwa tekanan yang terjadi pada pasar saham domestik saat ini cenderung dipengaruhi oleh faktor teknikal serta sentimen global.

"Kalau saya senang bicaranya secara statistik di data gitu ya. Memang kita tahu ada MSCI yang menyatakan nanti mungkin tanggal 29 kan dari MSCI, menyebabkan pasti investor mungkin dari luar, karena ada beberapa saham yang dikeluarkan, juga itu akan mengalami penekanan," jelas Rosan usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Kamis (21/5/2026).

Morgan Stanley Capital International diketahui baru saja merilis penyesuaian indeks yang mengeluarkan 18 saham Indonesia dan akan berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026.

Pria yang juga menjabat sebagai Menteri Investasi dan Hilirisasi tersebut kemudian mengimbau para investor untuk tetap mencermati fundamental jangka panjang perusahaan, terutama performa dari badan usaha milik negara.

"Kalau kita lihat satu persatu, apalagi BUMN kami seperti bank-bank Himbara, kalau kita lihat misalnya performanya meningkat, yieldnya juga di atas 10-11%, ya kan?" tambah Rosan.

Meskipun mengakui pasar saat ini sedang tertekan oleh faktor persepsi, ia meyakini bahwa kondisi fundamental ekonomi dan emiten pelat merah masih berada dalam posisi yang kuat.

"Jadi ya ada faktor teknikal, persepsi, tapi kalau kita lihat fundamentalnya, insyaAllah, fundamentalnya bagus gitu, kan bisa dilihat. Tapi persepsi yang di market ya semuanya kan juga sedang tertekan. Jadi yang penting secara menengah ke depannya, long run-nya itu akan-akan baik," tutur Rosan.

Artikel terkait

Rekomendasi