Risiko Cuaca Ekstrem Ancam Ekonomi Global Hingga Rp17.477 Triliun

Risiko Cuaca Ekstrem Ancam Ekonomi Global Hingga Rp17.477 Triliun
Foto: Ilustrasi Risiko Cuaca Ekstrem Ancam Ekonomi Global Hingga Rp17.477 Triliun.

Potensi kerugian ekonomi global akibat cuaca ekstrem diprediksi mencapai angka fantastis sebesar Rp17.477 triliun di masa depan. Angka ini tertuang dalam laporan terbaru dari CDP yang memperingatkan dampak serius perubahan iklim terhadap stabilitas finansial.

Dikutip dari Lestari, banyak pihak di sektor swasta maupun pemerintahan dinilai masih meremehkan ancaman finansial yang timbul dari gangguan iklim. Data tahun 2025 menunjukkan baru 35 persen dari 11.261 perusahaan yang menyadari bahaya serius ini.

Sepanjang satu tahun terakhir, sejumlah perusahaan melaporkan akumulasi kerugian hingga 3 miliar dolar AS atau setara Rp52,4 triliun. Lonjakan biaya operasional dan penghentian aktivitas bisnis secara mendadak menjadi faktor pemicu utama kerugian tersebut.

Fenomena hujan deras tercatat sebagai penyebab kerugian terbesar dengan nilai mencapai 1,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp26,2 triliun. Selain itu, banjir dan angin siklon tetap menjadi momok menakutkan bagi keberlangsungan bisnis di masa mendatang.

Dunia usaha memproyeksikan total kerugian di masa depan bisa menyentuh angka 898 miliar dolar AS atau setara Rp15.694 triliun. Banjir diperkirakan menyumbang porsi terbesar, yakni senilai 528 miliar dolar AS atau sekitar Rp9.227 triliun.

Ancaman badai siklon diprediksi mengakibatkan kerugian sebesar 161 miliar dolar AS atau Rp2.813 triliun. Sementara itu, dampak langsung dari intensitas hujan deras diperkirakan mencapai 86 miliar dolar AS atau setara Rp1.503 triliun.

Sekitar 50 persen dari total risiko tersebut diprediksi akan benar-benar terjadi dalam kurun waktu dua tahun ke depan. Kondisi ini mengharuskan perusahaan untuk segera memasukkan mitigasi perubahan iklim ke dalam rencana investasi mereka.

CDP mengungkapkan bahwa dampak finansial utama akan terlihat dari penurunan kapasitas produksi massal. Selain itu, kerusakan aset fisik sering kali memaksa perusahaan menghentikan penggunaan alat lebih cepat dari jadwal penyusutan aslinya.

Biaya Adaptasi Lebih Murah

Meskipun risiko kerugian sangat besar, biaya untuk melakukan adaptasi justru tergolong jauh lebih efisien. Rata-rata nilai risiko iklim bagi satu perusahaan adalah 39,4 juta dolar AS, sedangkan biaya pencegahannya hanya butuh sekitar 3,1 juta dolar AS.

Laporan bertajuk Disclosure Dividend 2025 tersebut menegaskan bahwa investasi dini untuk mitigasi iklim jauh lebih menguntungkan secara finansial. Hal ini berlaku bagi sektor infrastruktur, rantai pasok, hingga pasar asuransi global.

Kekhawatiran serupa juga melanda pemerintah daerah di berbagai belahan dunia. Dari 1.005 wilayah yang melapor ke CDP pada 2025, sebanyak 62 persen di antaranya mengaku sudah merasakan dampak langsung cuaca ekstrem.

Krisis Anggaran di Tingkat Daerah

Sebanyak 60 persen pemerintah daerah memprediksi ancaman seperti panas ekstrem dan banjir perkotaan akan semakin parah. Sektor keuangan dan asuransi dinilai menjadi bidang yang paling rentan terhadap guncangan bencana alam ini.

Saat ini, lebih dari 60 persen kota melaporkan adanya proyek perlindungan iklim yang terhenti karena masalah pendanaan. Terdapat kekurangan investasi setidaknya sebesar 34 miliar dolar AS atau sekitar Rp594,2 triliun untuk memperkuat infrastruktur.

Hampir separuh dari pemerintah daerah menyatakan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghalang utama proses adaptasi iklim. CDP pun mendesak agar bank sentral dan badan pengawas memperketat aturan pelaporan data lingkungan.

"Cuaca ekstrem adalah tantangan besar yang memengaruhi seluruh sistem, sehingga tidak ada satu pihak pun yang bisa menanganinya sendirian," kata Direktur Global CDP untuk urusan iklim, Amir Sokolowski.

"Dengan menyatukan investasi, memperkuat sistem bersama, dan mempercepat upaya penyesuaian serta menggunakan laporan keterbukaan data sebagai panduan untuk mengambil keputusan yang lebih baik, perusahaan dan pemerintah tidak hanya bisa mengurangi risiko, tetapi juga mempercepat perubahan menuju ekonomi yang kuat dan ramah bumi," tambahnya.

Artikel terkait

Rekomendasi