Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa sekitar 70 persen konten saran investasi di platform TikTok bersifat menyesatkan bagi para investor ritel. Laporan yang dirilis oleh DayTrader.com pada 25 September lalu ini memperingatkan masyarakat agar waspada terhadap bocoran peluang keuntungan di pasar keuangan.
Analisis mendalam dilakukan terhadap video yang memiliki jumlah penayangan tinggi dan memuat klaim finansial yang spesifik. Dilansir dari Business Insider, studi ini menggunakan sistem pemeringkatan A hingga F untuk mengukur kualitas edukasi serta akurasi informasi yang disebarkan para pembuat konten.
Hasil riset menunjukkan bahwa 30 persen video mendapatkan nilai F karena tidak mencantumkan informasi mengenai risiko investasi. Selain itu, sekitar 60 persen konten dinilai terlalu menyederhanakan masalah keuangan yang kompleks sehingga mendapatkan peringkat D hingga F.
James Barra, editor riset dari DayTrader.com, menjelaskan bahwa tujuan studi ini adalah untuk memetakan apa yang sebenarnya dikonsumsi oleh investor ritel di media sosial selama periode September.
"Tujuannya adalah mendapatkan daftar final selama September 10 TikTok yang menyediakan kombinasi realistis apa yang dilihat oleh investor ritel dan melakukan analisis detail," kata James Barra, editor riset tersebut dari DayTrader.com.
Penelitian tersebut juga menyoroti rendahnya tingkat akurasi informasi, di mana hanya 20 persen video yang berhasil meraih predikat A. Sementara itu, mayoritas video atau sebanyak 40 persen hanya mendapatkan nilai C dalam hal ketepatan data finansial.
Paul Holmes, penulis riset tersebut, menyatakan bahwa motif utama di balik pembuatan konten sering kali hanya untuk mengejar popularitas dan keuntungan finansial semata.
"Tapi kalau mereka harus memakai saran yang mereka berikan, apa mereka akan melakukannya juga?," tanya Holmes.
Holmes menambahkan bahwa para pemberi pengaruh di media sosial tersebut cenderung mempromosikan perusahaan teknologi besar dan fenomena saham meme. Sebagian besar materi yang dianalisis juga didominasi oleh pembahasan aset kripto, terutama token meme dan aset digital yang tidak populer.