Kinerja reksadana Cipta Saham Unggulan tetap membukukan hasil positif meskipun pasar saham domestik sedang mengalami tekanan hebat dalam beberapa bulan terakhir.
Seperti diberitakan oleh Investortrust, produk reksadana saham tersebut berhasil mencatatkan imbal hasil atau return year-to-date sekitar 6% hingga pertengahan April 2026.
Pencapaian reksadana kelolaan PT Ciptadana Asset Management ini terlihat kontras dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terkoreksi cukup dalam hingga kisaran 11,7% pada periode yang sama.
Selain itu, performa tahunan produk ini juga tercatat masih solid dengan imbal hasil mencapai sekitar 21% dalam satu tahun terakhir secara year-on-year (yoy).
Equity Fund Manager Ciptadana Asset Management, Andrian Winoto, menjelaskan bahwa konsistensi strategi menjadi kunci utama dalam mempertahankan kinerja portofolio tersebut.
"Kami cukup stabil dalam pengelolaan karena tetap berpegang pada filosofi value investing," ujar Andrian di Kantor Investortrust, The Convergence Indonesia, Senin (20/4/2026).
Dari sisi alokasi aset, portofolio Cipta Saham Unggulan saat ini didominasi oleh sektor pariwisata beserta industri turunannya, termasuk sektor konsumsi dan logistik yang bergerak searah dengan peningkatan mobilitas wisatawan.
Manajer investasi ini juga menempatkan dana kelolaan pada sektor teknologi informasi serta sektor perbankan.
Memasuki tahun ini, Andrian menyatakan bahwa pihaknya tidak menetapkan target imbal hasil secara pasti karena adanya regulasi yang melarang penawaran return tetap kepada investor.
Kendati demikian, penerapan pendekatan investasi yang konsisten diharapkan mampu menjaga stabilitas performa reksadana ini ke depan.
Andrian menilai bahwa investasi pada instrumen saham untuk jangka panjang idealnya berfokus pada fundamental perusahaan, seperti pertumbuhan pendapatan, laba bersih, pembagian dividen, serta valuasi harga saham.
Ia turut mengingatkan para investor bahwa fenomena lonjakan tajam pada saham tertentu, termasuk saham kelompok konglomerasi maupun tren saham digital, sering kali bersifat siklikal dan rawan mengalami koreksi mendalam.
Dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun terakhir, terjadi perbedaan arah atau divergensi antara performa reksadana saham secara umum dengan pergerakan IHSG.
Apabila pada periode sebelumnya pergerakan reksadana saham cenderung sejalan dengan indeks, saat ini IHSG dinilai lebih banyak ditopang oleh kenaikan signifikan dari saham-saham konglomerasi tertentu.
Kondisi tersebut menyebabkan reksadana saham yang tidak mengoleksi saham konglomerasi dalam porsi besar cenderung bergerak dengan arah yang berbeda dari indeks pasar.
"Kami memang tidak fokus pada saham konglomerasi dengan valuasi tinggi. Pendekatan kami tetap pada saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang masuk akal," kata Andrian.
Penerapan strategi value investing ini diakui sempat membuat pertumbuhan kinerja reksadana tidak secepat lonjakan pasar ketika terjadi reli saham-saham konglomerasi.
Namun, ketika saham konglomerasi tersebut mengalami koreksi tajam, portofolio yang berbasis pada fundamental kuat terbukti lebih tangguh, resilien, dan stabil.
Melalui pendekatan investasi tersebut, Ciptadana Asset Management optimistis dapat mempertahankan konsistensi performa produk dalam jangka panjang di tengah dinamika pasar saham yang terus berubah.