Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Danantara berkolaborasi memperkuat fundamental pasar modal domestik guna memulihkan kepercayaan investor global. Langkah strategis ini diambil menyusul catatan aksi jual bersih asing yang mencapai Rp37,61 triliun hingga Jumat (8/5/2026).
Dilansir dari Market, penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bahkan telah menyentuh angka dua digit sepanjang tahun berjalan. Kondisi ini terjadi menjelang pengumuman indeks MSCI pada Selasa (12/5/2026) yang akan menunjukkan persepsi pemodal internasional terhadap pasar keuangan Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa otoritas terus memantau dinamika pasar sebagai dampak dari pengumuman tersebut. OJK bersama BEI berkomitmen melanjutkan reformasi sistematis yang telah berjalan sejak awal tahun ini.
"Jadi kita harus mengantisipasi. Tadi saya sampaikan, mungkin bisa menjadi short term pain, tapi Insyaallah menjadi long term gain," kata Kiki di Gedung BEI, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Friderica menekankan bahwa gejolak yang mungkin timbul merupakan bagian dari proses perbaikan jangka panjang. Salah satu fokus utama adalah penghapusan saham yang masuk dalam daftar kepemilikan terkonsentrasi atau high shareholding concentration (HSC) oleh MSCI.
"Delapan aksi reformasi itu terus kita lakukan. Misalnya penegakan hukum, penguatan pengawasan. Dari BEI bagaimana mendorong banyak perusahaan masuk bursa, yang tentu saja akan kita lihat dulu kualitasnya, tidak hanya kuantitas saja," ujar Kiki.
Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menilai dinamika yang dipicu keputusan MSCI merupakan momentum untuk meningkatkan transparansi bursa. Pihaknya mengadopsi standar global untuk memastikan Indonesia memiliki pasar modal yang kompetitif dan terbuka.
"Jadi apa yang menjadi best practice di India dan tidak ada di tempat lain itu kita adopsi, apa yang ada di Hong Kong dan tidak ada di tempat lain itu juga kita adopsi. Itulah yang membuat saat ini sepertinya Bursa Indonesia adalah Bursa yang paling transparan di dunia," kata Jeffrey.
BEI sebelumnya telah mengeluarkan sembilan emiten dari indeks utama seperti LQ45 dan IDX30 sebagai bentuk implementasi aturan HSC. Meskipun kebijakan ini berpotensi menurunkan bobot saham Indonesia di MSCI untuk sementara, Jeffrey optimis akan kesehatan pasar di masa depan.
"Proses reformasi ini akan menjadi proses yang tidak pernah berhenti. Ini akan terus kami lakukan sampai Indonesia, Bursa Efek Indonesia menjadi bursa kelas dunia. Sebelum itu kami tidak akan berhenti. Kalau ditanya seberapa confidence atas upaya-upaya yang kita lakukan bersama ini, saya hanya akan menyampaikan bahwa kami dari Bursa Efek Indonesia sangat confidence pasar modal Indonesia on the right track, in the right direction," pungkasnya.
Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir, memberikan pandangan bahwa koreksi pasar tidak hanya dipicu oleh faktor MSCI. Ia menyoroti minimnya emiten berbasis teknologi dan kecerdasan buatan (AI) di bursa domestik dibandingkan dengan negara pesaing.
"Jadi ya boleh dibilang apakah ini [koreksi tajam IHSG] soal MSCI? I think MSCI is relatively soft. Mungkin adalah soal kreativitas kalau mau lihat," jelasnya.
Pandu juga mendorong agar regulator berani merekrut talenta terbaik, termasuk tenaga ahli asing, demi meningkatkan daya saing bursa Indonesia di kancah internasional. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap upaya kementerian terkait dalam memajukan industri keuangan.
"And you know, if you have to hire foreigners, hire foreigners. Just hire the best. I think that's, you know, will encourage people to want to invest more. Dan memang, tidak apa-apa juga think of the sky. Mau compete langsung dengan Hong Kong pun oke. Malah kita makin semangat. Dengan itu kita juga punya mimpi yang lebih baik lagi," tandasnya.