Setyono Djuandi Darmono Ungkap Rahasia Sukses Meski Pernah Gagal Masuk ITB

Setyono Djuandi Darmono Ungkap Rahasia Sukses Meski Pernah Gagal Masuk ITB
Foto: Ilustrasi Setyono Djuandi Darmono Ungkap Rahasia Sukses Meski Pernah Gagal Masuk ITB.

Gelar pendidikan tinggi sering kali menjadi standar utama dalam mengukur kesuksesan seseorang di masyarakat. Namun, pandangan ini dipatahkan oleh pengalaman hidup pendiri President University, Setyono Djuandi Darmono.

Setyono Djuandi Darmono tercatat pernah mengalami kegagalan saat mencoba masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Alih-alih terpuruk, ia memilih menempuh pendidikan di Akademi Tekstil Berdikari dan langsung terjun ke lapangan.

Dilansir dari Kompas, perjalanan praktis di dunia industri inilah yang akhirnya membentuk perspektif mendalam Darmono mengenai sistem pendidikan yang efektif. Ia menyadari bahwa bangku kuliah bukanlah satu-satunya penentu masa depan.

Selain pendidikan formal, Darmono sangat menekankan pentingnya penguasaan bahasa asing bagi perkembangan karier. Meskipun awalnya sempat mengalami kesulitan, ia tidak berhenti untuk mencoba meningkatkan kapasitas dirinya.

Ia menerapkan metode belajar praktis yang terbukti mampu meningkatkan kemampuannya dengan sangat cepat. Selain bahasa Inggris, tokoh di balik President University ini juga mempelajari berbagai bahasa asing lainnya secara tekun.

Kemampuan bahasa tersebut menjadi modal kuat baginya saat melamar pekerjaan di sebuah perusahaan asal Inggris. Menariknya, ia memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk menegosiasikan gaji yang tidak biasa.

Darmono bahkan berani meminta nominal gaji hingga lima kali lipat lebih besar dibandingkan standar lulusan perguruan tinggi ternama lainnya. Langkah ini ia ambil berdasarkan keyakinan akan nilai lebih yang ia miliki.

Keberhasilan menembus pasar kerja internasional tersebut menurutnya bukan sekadar hasil dari pendidikan formal semata. Ia percaya bahwa kesuksesan adalah perpaduan antara pengetahuan teknis, keterampilan lapangan, dan kekuatan karakter.

Darmono menegaskan bahwa ilmu pengetahuan memang bisa didapatkan melalui bangku kuliah secara teoritis. Namun, keterampilan yang mumpuni hanya bisa diperoleh dan diasah melalui praktik langsung di dunia nyata.

Sementara itu, ia memandang karakter sebagai aspek yang tidak bisa diajarkan secara instan. Karakter kuat merupakan hasil dari pembentukan kebiasaan serta sikap yang ditunjukkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel terkait

Rekomendasi