Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memastikan penggunaan ponsel tidak terbukti meningkatkan risiko kanker otak bagi masyarakat berdasarkan hasil studi komprehensif yang dipublikasikan pada Rabu, 15 April 2026. Penelitian berskala besar ini melibatkan hampir 5.000 peserta guna menjawab keresahan publik terkait dampak kesehatan dari radiasi perangkat elektronik.
Hasil evaluasi tersebut menunjukkan tidak ada hubungan sebab-akibat antara penggunaan telepon seluler jangka panjang dengan kemunculan tumor di area kepala. Sebagaimana dilansir dari Detik Health, radiasi yang dipancarkan ponsel merupakan jenis frekuensi radio berenergi rendah yang serupa dengan pancaran televisi serta Wi-Fi.
"Itu adalah studi terbaik yang pernah kami lakukan, studi terlengkap. Ini adalah kabar baik bagi orang-orang bahwa telepon seluler mereka tidak secara otomatis akan memberi mereka tumor otak atau tumor kepala," kata Dr Herbert Newton, Ahli Neuro-onkologi.
Dr Newton menjelaskan perbedaan mendasar terletak pada jenis radiasi yang diterima tubuh manusia. Radiasi pengion seperti sinar-X memiliki energi yang cukup untuk merusak DNA dan memicu kanker, sementara radiasi frekuensi radio dari ponsel berada pada level yang sangat rendah dan tidak memiliki kemampuan destruktif tersebut.
Selain isu kanker, para ahli medis juga meninjau kaitan antara radiasi ponsel dengan gangguan fungsi jantung. Dr Karishma Patwa, seorang ahli jantung, menegaskan hingga saat ini belum ditemukan bukti ilmiah yang mendukung adanya hubungan langsung antara paparan radiasi perangkat genggam dengan penyakit kardiovaskular.
Meski risiko radiasi dinilai minim, para praktisi kesehatan memperingatkan adanya ancaman kesehatan lain yang lebih nyata akibat penggunaan ponsel berlebihan. Masalah fisik seperti kelelahan mata, nyeri leher, serta gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi menjadi risiko yang lebih sering ditemukan pada pengguna aktif.
Untuk meminimalisir kekhawatiran masyarakat, pakar menyarankan penggunaan mode pengeras suara atau pengiriman pesan teks untuk mengurangi durasi penempelan ponsel pada telinga. Langkah ini dianggap sebagai tindakan preventif tambahan meskipun bukti risiko kesehatan berat belum ditemukan secara klinis.