Perempuan modern di masa kini sering kali memikul beban tanggung jawab yang sangat beragam. Mereka harus mampu tampil profesional di lingkungan kantor, menjadi pemimpin yang tangguh, sekaligus menjalankan peran sebagai pengasuh utama di dalam rumah tangga.
Kompleksitas peran dan identitas inilah yang menjadi fokus utama UNIQLO dalam memperingati International Women’s Day 2026. Melalui kolaborasi dengan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE), perusahaan ritel asal Jepang ini mengadakan sebuah diskusi mendalam di Jakarta pada 5 Maret 2026.
Diskusi bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional” tersebut bertujuan memperluas pemahaman mengenai keberagaman identitas di tempat kerja. Selain itu, kegiatan ini juga menekankan betapa pentingnya penerapan kepemimpinan yang inklusif di era modern.
Rincian mengenai acara diskusi yang diselenggarakan oleh UNIQLO:
- Tema Utama: Interseksionalitas dalam menavigasi hambatan di dunia kerja profesional.
- Tujuan Acara: Mendorong pemahaman tentang keberagaman identitas dan pentingnya kepemimpinan inklusif.
- Lokasi dan Waktu: Jakarta, 5 Maret 2026.
- Kolaborator: Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).
Penyelenggaraan acara ini menjadi wadah bagi para profesional untuk saling berbagi pandangan mengenai tantangan nyata yang dihadapi perempuan di dunia kerja saat ini. Dengan adanya dialog seperti ini, diharapkan tercipta ekosistem kerja yang lebih mendukung perkembangan karier individu tanpa melihat batasan gender semata.
Memahami Konsep Interseksionalitas di Dunia Kerja
Di dalam dunia kerja yang terus bergerak dinamis, keberagaman latar belakang setiap karyawan merupakan realitas yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Setiap orang membawa identitas yang sangat berlapis, mulai dari faktor gender, usia, tingkat pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi masing-masing.
Kombinasi dari berbagai faktor inilah yang kemudian membentuk pengalaman kerja yang berbeda bagi setiap individu. Fenomena ini dikenal dengan istilah interseksionalitas, sebuah cara pandang yang melihat bahwa identitas seseorang tidak berdiri sendiri melainkan saling beririsan.
Dalam situasi praktis, seorang karyawan perempuan mungkin menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan rekan kerja laki-laki. Terutama jika perempuan tersebut juga memegang tanggung jawab besar dalam peran domestik di luar jam kantornya.
Untuk membedah isu ini lebih lanjut, UNIQLO menghadirkan pembicara dari berbagai sektor yang ahli di bidangnya. Beberapa tokoh penting yang terlibat dalam diskusi ini antara lain adalah:
| Nama Pembicara | Jabatan / Instansi |
|---|---|
| Irma Yunita | Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia |
| Fetty Kwartati | Perwakilan dari PT Tara Naya Karsa |
| Rhaka Ghanisatria | Co-Founder komunitas Menjadi Manusia |
| Wita Krisanti | Perwakilan dari IBCWE |
Daftar pembicara di atas membawa perspektif yang kaya mengenai bagaimana perusahaan dapat memahami realitas karyawan secara lebih utuh. Melalui pemahaman identitas yang kompleks, organisasi diharapkan bisa menciptakan lingkungan kerja yang jauh lebih adil bagi semua orang.
Melampaui Kebijakan Keberagaman dan Inklusi
Saat ini sudah banyak perusahaan yang mulai menerapkan kebijakan Diversity, Equity & Inclusion (DEI) di lingkungan internal mereka. Namun, pendekatan melalui kacamata interseksionalitas mendorong organisasi untuk melangkah lebih jauh dari sekadar formalitas kebijakan.
Perusahaan tidak hanya dituntut untuk menghadirkan keberagaman secara kuantitas, tetapi juga harus memahami faktor sosial yang memengaruhi pengalaman kerja seseorang. Hal ini sangat krusial agar setiap kebijakan yang diambil benar-benar tepat sasaran dan inklusif.
Data dari berbagai penelitian global menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang beragam memiliki potensi inovasi yang jauh lebih tinggi. Selain itu, kinerja bisnis secara keseluruhan juga cenderung lebih baik dibandingkan perusahaan yang homogen.
Inklusi kini bukan lagi sekadar isu sosial yang bersifat normatif, melainkan sudah menjadi strategi bisnis yang penting untuk keberlanjutan perusahaan. Dengan tim yang beragam, perusahaan akan lebih kaya akan ide-ide segar dan solusi kreatif dalam menghadapi tantangan pasar.
Di Indonesia, diskusi mengenai kepemimpinan yang inklusif memang terus berkembang pesat, namun tantangan nyata masih sering ditemukan. Budaya kerja yang masih hierarkis serta adanya bias tidak sadar dalam pengambilan keputusan sering kali menjadi hambatan utama.
Komitmen UNIQLO dalam Pengembangan Talenta
Irma Yunita selaku Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia menyatakan bahwa keberagaman bukan hanya soal angka keterwakilan atau representasi. Baginya, perusahaan harus memastikan bahwa setiap individu memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkontribusi secara jujur.
“Dalam industri ritel yang ritmenya sangat cepat, menyeimbangkan performa bisnis dengan kepemimpinan yang inklusif memang cukup menantang,” ujar Irma. Ia menambahkan bahwa di titik itulah kualitas seorang pemimpin diuji dalam mengelola tim yang beragam dengan tetap mempertahankan performa.
Sebagai bagian dari entitas global, UNIQLO Indonesia menerapkan sistem pengembangan karier yang sepenuhnya berbasis pada kompetensi dan kinerja individu. Mereka tidak membatasi akses pelatihan kepemimpinan hanya untuk kelompok tertentu, melainkan membukanya bagi seluruh level karyawan.
Hal ini termasuk memberikan kesempatan yang sama bagi para perempuan serta talenta muda untuk naik ke jenjang manajerial. Langkah ini diambil guna memastikan regenerasi kepemimpinan di dalam perusahaan tetap berjalan secara inklusif dan profesional.
Berikut adalah beberapa inisiatif utama yang dijalankan UNIQLO untuk mendukung karyawan:
- Pelatihan Kepemimpinan: Memberikan akses pengembangan skill bagi karyawan perempuan dan talenta muda di semua level.
- Dialog Terbuka: Mendorong komunikasi dua arah antara manajemen dan staf agar setiap aspirasi dapat didengar.
- Standar Global: Menerapkan prinsip kesetaraan yang mengacu pada aturan perusahaan internasional.
- Evaluasi Berbasis Kinerja: Menghilangkan bias dengan fokus pada kompetensi nyata setiap individu.
Penerapan inisiatif-inisiatif tersebut bertujuan agar setiap orang di dalam lingkungan kerja merasa dihargai dan memiliki nilai. Dengan merasa aman, karyawan akan lebih berani mengeksplorasi potensi terbaik yang mereka miliki untuk kemajuan bersama.
Pentingnya Peran Pemimpin sebagai Sekutu (Allyship)
Satu poin penting yang juga disoroti dalam diskusi tersebut adalah mengenai konsep organizational allyship di dalam sebuah instansi. Konsep ini menekankan peran individu, khususnya para pemimpin, untuk menjadi "sekutu" bagi rekan kerja yang memiliki latar belakang berbeda.
Menjadi seorang sekutu tidak berarti seorang pemimpin harus memiliki semua jawaban atas permasalahan yang ada. Inti dari sikap ini adalah kemauan yang kuat untuk mau mendengar serta terus belajar memahami perspektif orang lain secara tulus.
Dalam praktik sehari-hari, sikap sebagai sekutu dapat ditunjukkan melalui tindakan-tindakan yang terlihat sederhana namun berdampak besar. Misalnya dengan memberikan kesempatan bicara yang adil bagi setiap anggota tim saat sedang melakukan rapat kerja.
Dukungan terhadap fleksibilitas kerja serta keberanian untuk mengoreksi bias yang muncul dalam diskusi juga merupakan bentuk nyata dari allyship. Hal-hal kecil ini secara kolektif akan membentuk budaya kerja yang sangat positif dan suportif bagi semua karyawan.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri karyawan ketika mereka ingin menyampaikan ide atau sudut pandang yang baru. Ketika rasa aman sudah terbentuk, kreativitas akan mengalir dengan sendirinya tanpa adanya tekanan rasa takut salah.
Irma Yunita menegaskan bahwa kondisi lingkungan kerja yang inklusif seperti ini merupakan aset yang sangat berharga bagi perusahaan manapun. Tim yang inklusif biasanya jauh lebih cepat beradaptasi terhadap perubahan zaman dan mampu melahirkan inovasi yang relevan bagi industri.