Vladimir Putin Temui Xi Jinping Perkuat Kerja Sama Energi

Vladimir Putin Temui Xi Jinping Perkuat Kerja Sama Energi
Foto: Ilustrasi Vladimir Putin Temui Xi Jinping Perkuat Kerja Sama Energi.

Presiden Rusia Vladimir Putin melaksanakan kunjungan kenegaraan selama dua hari ke Beijing, China, pada Selasa (19/5/2026) guna mengamankan kesepakatan krusial di sektor perdagangan dan energi serta memperkuat hubungan bilateral kedua negara, dilansir dari Investor Daily.

Langkah diplomatik Moskow ini berlangsung tepat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyelesaikan kunjungan resminya ke China. Isu geopolitik, proyek energi, dan kemitraan perdagangan menjadi tiga fokus utama dalam agenda pertemuan antara Putin dan Presiden China Xi Jinping.

Pakar dari New York University menilai kedatangan pemimpin Rusia yang berselisih beberapa hari dari kunjungan Trump merupakan pesan strategis bagi Gedung Putih. Pihak Rusia juga mengincar dukungan diplomatik Beijing di tengah ketegangan wilayah Barat terkait konflik Ukraina.

"Putin ingin mengingatkan Amerika bahwa meski mereka bisa mengunjungi China kapan saja, Rusialah tetangga yang jauh lebih dekat dan ramah," ujar Ed Price, Senior Fellow Non-Residen di New York University.

Pertemuan bilateral ini sekaligus menjadi ruang bagi kedua pemimpin untuk menyamakan persepsi. Hubungan strategis tersebut juga digunakan untuk menepis isu miring yang menyebut China tidak mendukung invasi Rusia, yang sebelumnya telah dibantah oleh Kementerian Luar Negeri China.

"Selama Putin memiliki ambisi teritorial di Barat (Ukraina), dia harus mengamankan keseksesan diplomasi di Timur (China)," tambah Ed Price.

Di sektor energi, Rusia berupaya melobi Beijing agar proyek pembangunan pipa gas Power of Siberia 2 melewati Mongolia menuju China bisa segera disetujui. Tekanan sanksi internasional membuat Rusia kehilangan pasar utama di Eropa sehingga kini sangat bergantung pada India dan China.

"Rusia sangat membutuhkan pipa ini karena kehilangan pasar Eropa, sementara China telah mendiversifikasi sumber energinya dan memiliki cadangan substansial yang membuat mereka bisa menunggu lebih lama," ungkap Sergei Guriev, Dekan London Business School.

Isolasi ekonomi dari negara-negara Barat memicu volume perdagangan antara Rusia dan China melonjak dua kali lipat dalam empat tahun terakhir. Beijing kini resmi menggantikan posisi Uni Eropa sebagai mitra dagang terbesar bagi Moskow, khususnya untuk pasokan teknologi dan barang manufaktur.

"Rusia sangat bergantung pada China untuk pasokan teknologi, barang konsumsi, dan barang manufaktur," jelas Sergei Guriev.

Melalui saluran resmi, pihak Moskow menegaskan komitmennya untuk terus memelihara komunikasi intensif dengan Beijing. Langkah ini menjadi bagian penting dari strategi Rusia yang mengalihkan fokus kerja sama ekonomi mereka ke wilayah Asia.

"Putin menegaskan bahwa kunjungan berkala ini merupakan bagian integral untuk membuka potensi tanpa batas dari hubungan kedua negara," tulis kantor berita TASS.

Artikel terkait

Rekomendasi