Pasar keuangan Indonesia mencatatkan performa buruk dengan pelemahan signifikan pada Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS), seperti dilansir dari Detik Finance.
Dalam perdagangan tersebut, IHSG sempat merosot hingga 4 persen ke kisaran level 6.400, sebelum akhirnya menguat dan ditutup pada posisi 6.599.
Pada saat yang sama, nilai tukar mata uang AS menekan Rupiah hingga menyentuh level terendahnya di angka Rp 17.600 per US$ 1.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi situasi tersebut dengan tenang dan menyatakan bahwa kondisi pasar finansial domestik yang merosot masih dapat diperbaiki.
Menurut penilaian Purbaya, penurunan indeks saham tersebut murni akibat pengaruh sentimen negatif yang bersifat sementara dalam jangka pendek.
Purbaya memastikan bahwa fondasi perekonomian nasional saat ini berada dalam kondisi yang sangat kokoh, sehingga ia tetap melihat prospek positif bagi pergerakan IHSG ke depan.
"Nggak apa-apa, nanti kita perbaiki. Kan fondasi ekonominya kan bagus, itu masalah sentimen jangka pendek aja. Jadi, saya akan fokus jaga pondasi ekonomi dengan memastikan pembangunan ekonomi tidak terganggu," beber Purbaya di Lanud Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Senin (18/5/2026).
Terkait faktor pemicu gejolak pasar, Purbaya memaparkan adanya kekhawatiran dari sejumlah pihak yang menyamakan depresiasi Rupiah saat ini dengan situasi krisis finansial pada tahun 1998.
Namun, ia menegaskan bahwa kondisi historis tersebut sangat kontras dengan situasi fundamental ekonomi nasional sekarang.
Purbaya menyebutkan bahwa keterpurukan ekonomi pada tahun 1998 silam dipicu oleh adanya kekeliruan dalam pengambilan kebijakan.
"Oh ini kan banyak sentimen. Kalau Rupiah melemah seolah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Beda 1998 itu kebijakannya salah," ujar Purbaya.
Perbedaan lainnya terletak pada pertumbuhan makro, di mana menjelang krisis 1998, Indonesia telah didera perlambatan ekonomi hingga mengalami resesi sejak tahun 1997.
Sementara untuk kondisi tahun ini, Purbaya menegaskan ritme pertumbuhan ekonomi domestik masih melaju dalam kecepatan yang aman.
"Kita kan sekarang belum resesi. Ekonomi masih tumbuh kencang, jadi masih ada ruang untuk memperbaiki semua," beber Purbaya.
Menteri Keuangan justru menyarankan agar para pelaku pasar modal tidak perlu panik dalam menghadapi penurunan harga saham yang sedang berlangsung.
Momentum koreksi pasar ini dinilainya sebagai kesempatan berharga bagi para investor untuk mengoleksi aset saham dengan valuasi yang lebih terjangkau.
"Jadi, teman-teman nggak usah khawatir, investor pasar saham kalau saya bilang jangan takut serok ke bawah sekarang. Jadi, jangan lupa beli saham," kata Purbaya.
Langkah konkret penstabilan pasar juga telah dieksekusi pemerintah melalui intervensi langsung di pasar surat utang negara dengan alokasi mencapai Rp 2 triliun setiap harinya.
Melalui instrumen intervensi ini, Purbaya memproyeksikan nilai tukar mata uang Rupiah akan berangsur pulih dan menguat dalam waktu dekat.
"Kita sudah masuk ke bond market bertahap ya. Asing juga sudah masuk juga, jadi harusnya sih ke depan, minggu-minggu ini akan lebih stabil. Saya akan masuk setiap hari di bond market. Saya minta masuk 2 triliun setiap hari," ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, usai dipanggil Presiden Prabowo, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Sumber pendanaan untuk operasi pasar obligasi tersebut dipastikan berasal dari instrumen manajemen kas internal pemerintah, termasuk mengoptimalkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini bernilai Rp 420 triliun.
Langkah ini diklaim tidak akan mengurangi volume likuiditas negara karena sifatnya yang hanya berupa rotasi penempatan dana demi memicu respons positif pasar.
"Kan kita masih punya beberapa tempat kan. Itu kan hanya cash management saja, jadi nggak masalah, kan uangnya nggak hilang. Cuma diputar saja supaya ada sedikit sentimen positif di pasar obligasi," terang Purbaya.
Dampak psikologis yang stabil di pasar obligasi diharapkan mampu menahan minat investor global agar tidak menarik modal mereka keluar dari Indonesia.
"Biasanya kalau sentimen positif di situ, biasanya asing juga ikut masuk dan Rupiah cenderung terkendali karena uangnya nggak keluar lagi. Yang asing nggak jual bond dan kabur keluar karena bond-nya stabil harganya. Artinya kalau stabil kan kalau yield-nya turun, kita targetkan bisa turun. Kalau yield-nya turun kan berarti harga bond-nya naik. Nanti ada potensi capital gain. Jadi harusnya pasar bond kita menarik," sambung Purbaya menjelaskan.