Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa daya beli masyarakat Indonesia secara keseluruhan tetap stabil di tengah fluktuasi harga barang. Penegasan ini disampaikan dalam konferensi pers APBNKita yang berlangsung di Jakarta Pusat pada Selasa (5/5/2026).
Pernyataan tersebut merespons berbagai narasi di platform media sosial, khususnya TikTok, yang mengeklaim Indonesia sedang menuju ancaman hiperinflasi. Dilansir dari Detik Finance, Purbaya menilai penyebar informasi tersebut tidak memahami fundamental ekonomi yang sebenarnya.
"Ada yang bilang hiperinflasi loh baru-baru ini di Tiktok. Kita menuju hiperinflasi, padahal dia nggak tahu definisi hiperinflasi itu apa," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Kondisi inflasi nasional menunjukkan tren positif dengan adanya penurunan angka year on year (yoy) pada April 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi berada pada level 2,42 persen, turun signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,48 persen.
"Jadi inflasi masih terkendali. Kalau naik, harganya ada yang, naik ada turun. Tapi secara agregat seperti ini, artinya kenaikan harga tidak menggerus daya beli masyarakat secara signifikan. Dan ini adalah angka yang sempurna ya, target kita 2,5 plus minus 1," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Mantan Kepala LPS tersebut memastikan pemerintah terus berkomitmen menjaga stabilitas harga agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi. Ia juga menekankan bahwa posisi Indonesia saat ini sangat jauh dari kategori hiperinflasi.
"Ini kita pastikan terus sampai ke depan terkendali terus inflasinya. Jadi ekonomi kita nggak kepanasan, hiperinflasi masih jauh. Itu pengamat-pengamat itu mesti belajar lagi gitu, bukan semua ya, ada yang jelek-jelekin saya lihat, mereka bilang hiperinflasi," tambah Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.