Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pasca-pembentukan Devisa Hasil Ekspor Spesifik (DSI) dinilai terjadi akibat ketidakpastian pelaku pasar terhadap dampak kebijakan baru tersebut, seperti dilansir dari Nasional di Kemenko Perekonomian pada Kamis (21/5).
Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa pasar saham akan berbalik menguat setelah para investor memahami manfaat regulasi anyar ini bagi kinerja perusahaan tercatat.
"Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut jual dulu. Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya apa, harganya (IHSG) akan naik," kata Purbaya.
Penutupan celah praktik pelaporan nilai ekspor yang lebih rendah dari nilai sebenarnya atau under-invoicing menjadi fokus utama dari keberadaan mekanisme DSI ini.
"Under-invoicing kan akan tertutup dengan adanya badan ekspor itu. Jadi yang tadi biasanya jadi uang jadi mainnya oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan. Sekarang bisa harusnya terefleksi langsung di penjualan mereka yang murni," katanya.
Peningkatan transparansi transaksi perdagangan luar negeri ini diproyeksikan bakal mendongkrak profitabilitas dan valuasi emiten di pasar modal dalam jangka menengah.
"Perusahaannya juga akan untung. Jadi harusnya bisa double untungnya yang tercatat di bursa dan dilaporkan. Harusnya ini akan meningkatkan valuasi perusahaan-perusahaan itu di bursa," ujarnya.
Proses penguatan indeks saham domestik tersebut diprediksi akan berlangsung secara bertahap seiring meningkatnya pemahaman pelaku pasar.
"Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan," kata Purbaya.