Prudential Indonesia memperkuat komitmen pencegahan fraud asuransi kesehatan melalui penyelenggaraan Risk Awareness Series 2026 di Jakarta. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya biaya medis serta kompleksitas modus kecurangan klaim kesehatan yang dilansir dari Media Indonesia.
Acara bertema "Health Fraud in Indonesia ÔÇô Modus Operandi and Prevention" tersebut dilangsungkan secara luring di Prudential Tower Jakarta dan daring via Zoom. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 350 peserta yang terdiri dari karyawan serta tenaga pemasar perusahaan.
Pihak manajemen menekankan bahwa kecurangan dalam sektor ini menimbulkan dampak negatif yang luas bagi masyarakat. Tekanan terhadap industri asuransi kesehatan juga semakin meningkat setelah Prudential mencatat inflasi medis di Indonesia mencapai hingga 19% pada 2025.
"Fraud dalam asuransi kesehatan adalah isu yang tidak hanya dapat mengakibatkan kerugian finansial, namun juga berdampak langsung pada kepercayaan nasabah dan pada akhirnya melemahkan inklusi serta ketahanan keuangan masyarakat dalam jangka panjang," ujar Vikas Sinha, Vice President Director Prudential Indonesia.
Menurut manajemen, penguatan literasi anti-fraud dan budaya sadar risiko menjadi bagian krusial. Upaya tersebut dilakukan demi menjaga tata kelola perusahaan yang baik serta memastikan keberlanjutan industri asuransi ke depan.
Modus kecurangan yang berkembang saat ini turut mendapat perhatian dari asosiasi pemeriksa kecurangan. Berbagai pola baru mulai terdeteksi dalam pengajuan klaim layanan kesehatan di lapangan.
"Strategi pencegahan fraud dapat dilakukan melalui kombinasi penguatan proses manual seperti verifikasi, audit, dan validasi klaim secara menyeluruh serta pemanfaatan teknologi berbasis IT, termasuk analitik data, AI, dan pemantauan real-time," kata Hery Subowo, Chair of the Board of Directors ACFE Indonesia Chapter.
Hery mengungkapkan bahwa modus fraud klaim kesehatan kini semakin beragam. Praktik tersebut berkisar mulai dari manipulasi diagnosis, klaim berulang, hingga penyalahgunaan identitas peserta.
Tantangan serupa ternyata tidak hanya melanda sektor swasta, melainkan juga terjadi pada sistem jaminan kesehatan nasional yang dikelola pemerintah.
"Upaya pencegahan fraud dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan manajemen risiko, peningkatan kapasitas SDM, kepatuhan mitra, serta pemanfaatan data dan sistem deteksi," ujar Vetty Yulianty Permanasari, Direktur SDM dan Umum BPJS Kesehatan.
Vetty menjelaskan bahwa bentuk fraud yang kerap ditemukan meliputi klaim atas layanan yang tidak diberikan. Selain itu, terdapat pula modus penggunaan obat dan alat kesehatan secara berlebihan hingga penjiplakan klaim.
Sektor profesi medis juga menyoroti aspek moralitas guna menangkal fenomena ini. Integritas para tenaga medis dinilai menjadi benteng utama dalam pemberian layanan kesehatan yang objektif.
Ketua Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia, Prasetyo Edi, menegaskan bahwa kepatuhan terhadap standar profesi menjadi faktor utama. Hal itu bertujuan untuk memastikan seluruh tindakan medis yang dilakukan benar-benar berdasarkan kebutuhan klinis pasien.
Sebagai langkah konkret pengawasan, Prudential Indonesia kini telah mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan (AI), otomatisasi, serta analitik data dalam pengelolaan klaim. Di samping itu, platform PRUServices disediakan untuk meningkatkan transparansi akses bagi nasabah.
"Sinergi ini menjadi fondasi penting untuk terus membangun ekosistem asuransi kesehatan yang bersih, berkelanjutan, dan tepercaya bagi masyarakat Indonesia," ujar Maria Rosalinda, Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko Prudential Indonesia.