Tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan adanya pergeseran likuiditas investor asing ke saham-saham dengan tata kelola dan free float sehat menyusul perubahan indeks MSCI pada Rabu, 13 Mei 2026. Saham perbankan besar seperti BBCA, BMRI, BBNI, serta TLKM diprediksi menjadi tujuan rotasi tersebut.
Kondisi pasar modal Indonesia pasca penyesuaian indeks global ini dilansir dari Investor Daily. Evaluasi tersebut memicu kekhawatiran pasar, namun para analis melihat adanya peluang penguatan bobot relatif bagi saham-saham unggulan di dalam indeks.
"Keluarnya beberapa saham besar justru meningkatkan bobot relatif saham blue chip dan bank-bank jumbo Indonesia di indeks, yang berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance yang lebih sehat, seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM," tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.
Hingga penutupan perdagangan di hari yang sama, sejumlah saham perbankan mengalami koreksi harga. Saham BBCA turun 0,4 persen ke Rp 6.100, BMRI melemah 0,9 persen ke Rp 4.200, dan BBNI terkoreksi 1,02 persen menjadi Rp 3.870, sementara TLKM justru menguat 0,3 persen ke posisi Rp 2.960.
Kiwoom Sekuritas juga menekankan bahwa posisi Indonesia dalam kategori emerging market tetap stabil dan tidak mengalami penurunan status. Pengurangan jumlah saham dalam indeks MSCI ACWI pun merupakan fenomena global yang tidak hanya terjadi di bursa domestik.
"Dan, fenomena ini bukan kejadian eksklusif Indonesia karena dalam review MSCI ACWI (All Country World Index) kali ini hanya 49 saham masuk, sementara 101 saham keluar secara global," ungkap tim riset Kiwoom Sekuritas.
Tekanan jual terbesar dalam perubahan indeks ini terpusat pada dua emiten utama, yakni PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). DSSA diperkirakan mengalami aliran dana keluar sebesar Rp 9 triliun, sedangkan BREN mencapai Rp 6 triliun.
"Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua saham tersebut," tulis tim riset Kiwoom Sekuritas.
Analis melihat bahwa pasar saat ini cenderung bereaksi berlebihan terhadap pengumuman dikeluarkannya 18 saham dari indeks. Padahal, tekanan harga pada emiten seperti AMMN, CUAN, dan TPIA sudah terjadi sejak awal tahun sehingga risiko penurunan lebih lanjut menjadi lebih terbatas.
"Karena itu, estimasi foreign outflow kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan panic scenario awal yang sempat mengarah ke Rp 50 triliun lebih," sebut Kiwoom Sekuritas.
Mengenai total aliran dana keluar, Joeliardi Sunendar memprediksi angka di kisaran Rp 27,8 triliun hingga Rp 31 triliun. Di sisi lain, CGS International memproyeksikan angka Rp 31,5 triliun, sementara Citi memperkirakan skenario terburuk dapat mencapai Rp 34,7 triliun.