Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi 2026 Capai Rp175,8 Triliun

Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi 2026 Capai Rp175,8 Triliun
Foto: Ilustrasi Pefindo Proyeksikan Penerbitan Obligasi Korporasi 2026 Capai Rp175,8 Triliun.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan nilai penerbitan surat utang korporasi pada tahun 2026 bakal menyentuh angka Rp175,8 triliun. Optimisme ini muncul di tengah proyeksi pasar yang tetap kuat meskipun menghadapi berbagai dinamika ekonomi global.

Dilansir dari Investortrust, emisi obligasi tahun ini dipacu oleh beberapa faktor kunci. Di antaranya adalah kebutuhan perusahaan untuk membiayai kembali utang yang jatuh tempo (refinancing), optimalisasi struktur pendanaan, serta kondisi suku bunga yang dinilai lebih bersahabat.

Pefindo juga menyoroti peran mekanisme credit enhancement sebagai instrumen untuk menekan biaya pendanaan. Layanan jaminan ini memungkinkan para penerbit surat utang untuk meningkatkan kualitas kredit serta meraih peringkat (rating) instrumen yang lebih tinggi.

Direktur Utama Pefindo, Irmawati, menjelaskan bahwa proyeksi penerbitan surat utang korporasi pada tahun 2026 tetap berada di level yang kokoh. Pihaknya menetapkan rentang estimasi antara Rp154 triliun hingga Rp196,9 triliun.

"Kami proyeksikan nilainya berkisar Rp 154 triliun hingga Rp 196,9 triliun, dengan estimasi titik tengah sekitar Rp 175,8 triliun," kata Irmawati dalam seminar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang mencapai Rp215,6 triliun dari 181 emisi, target tahun ini menunjukkan penurunan sekitar 18,5%. Namun, pasar surat utang tetap dianggap sebagai jalur pendanaan utama bagi korporasi di Indonesia.

Kebutuhan pembiayaan kembali utang yang jatuh tempo menjadi motor penggerak utama emisi tahun ini. Selain itu, Irmawati menilai minat investor institusi domestik terhadap obligasi korporasi masih positif karena dianggap sebagai instrumen investasi yang stabil.

Manfaat Strategis Credit Enhancement

Dalam metodologi pemeringkatan yang dilakukan Pefindo, layanan credit enhancement menjadi faktor krusial yang dapat mengerek posisi rating sebuah perusahaan. Layanan yang disediakan oleh PT Indonesia Infrastructure Finance (IIF) berfungsi sebagai katalisator.

"Surat utang yang diterbitkan suatu korporasi bisa mendapat rating yang sama dengan IIF apabila mendapat garansi penuh melalui credit enhancement dari IIF," ujar Irmawati.

Presiden Direktur IIF, Rizki Pribadi Hasan, menekankan bahwa skema ini bertujuan menciptakan ekosistem penerbitan surat utang yang lebih aman. Credit enhancement memberikan perlindungan tambahan bagi investor sekaligus memperluas basis pemodal di pasar modal.

"Layanan credit enhancement oleh IIF merupakan salah satu faktor kunci meningkatkan daya tarik dan kualitas penerbitan surat utang korporasi di pasar modal. Layanan ini adalah katalis bagi pasar surat utang," tutur Rizki.

Melalui dukungan struktur transaksi yang hati-hati (prudent), para emiten diharapkan mampu memperoleh biaya pendanaan yang lebih kompetitif. Hal ini secara langsung mendukung pembiayaan jangka panjang bagi sektor infrastruktur dan industri strategis nasional.

Dukungan Bursa Efek Indonesia dan Penjamin Emisi

Pihak Bursa Efek Indonesia terus berupaya mendorong pertumbuhan instrumen efek bersifat utang dan sukuk melalui berbagai program sosialisasi. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyatakan pihaknya aktif memberikan konsultasi kepada calon emiten.

"Program sosialisasi dan konsultasi ditujukan untuk mendorong penerbitan segala jenis efek, tidak terkecuali efek bersifat utang dan sukuk yang dapat dilakukan dengan skema credit enhancement," kata Nyoman.

Senada dengan hal tersebut, Plt Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Fifi Virgantria, merasa optimistis terhadap potensi pertumbuhan pasar surat utang. Kehadiran penjaminan dari lembaga kredibel seperti IIF memberikan nilai tambah yang signifikan.

"Dukungan credit enhancement dari IIF memberikan nilai tambah yang signifikan dalam proses penerbitan surat utang korporasi. Sebagai salah satu penjamin emisi, BRIDS optimistis," ucap Fifi.

Fifi menambahkan bahwa sinergi antara BEI, Pefindo, IIF, dan penjamin emisi sangat penting untuk memperdalam pasar modal Indonesia. Pemahaman yang komprehensif mengenai mekanisme penjaminan akan membuat penerbitan obligasi menjadi lebih berkualitas dan berkelanjutan di masa depan.

"Credit Enhancement bukanlah hal baru, namun belum seluruh pelaku pasar memahami fungsi dan mekanismenya dengan jelas. Sejatinya, credit enhancement dari lembaga yang kuat dan kredibel seperti IIF ini dapat mendukung penerbitan surat utang yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan sejalan dengan upaya pendalaman pasar modal Indonesia," ujar Fifi.

Artikel terkait

Rekomendasi