Mandiri Institute Prediksi Konsumsi Masyarakat Tumbuh Positif Hingga Semester I 2026

Mandiri Institute Prediksi Konsumsi Masyarakat Tumbuh Positif Hingga Semester I 2026
Foto: Ilustrasi Mandiri Institute Prediksi Konsumsi Masyarakat Tumbuh Positif Hingga Semester I 2026.

Konsumsi masyarakat Indonesia diprediksi akan terus menunjukkan tren pertumbuhan positif hingga akhir semester pertama tahun 2026. Proyeksi optimis ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor musiman yang kuat serta kebijakan stimulus dari pemerintah.

Dikutip dari Investortrust, Kepala Mandiri Institute Andre Simangunsong menjelaskan bahwa penguatan belanja masyarakat didorong oleh momentum Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 H. Selain itu, periode libur sekolah pada pertengahan tahun diperkirakan memperpanjang tren positif ini.

"Saya sih yakin paling tidak sampai kuartal pertama, bahkan kemungkinan berlanjut hingga kuartal kedua. Karena kuartal pertama ada Ramadan dan Idulfitri, dan kuartal kedua hingga Juni dan Juli nanti ada momen libur sekolah yang biasanya mendorong belanja masyarakat," kata Andre Simangunsong.

Peningkatan aktivitas ekonomi sebenarnya telah terdeteksi sejak pengujung tahun 2025. Implementasi paket stimulus pemerintah menjadi motor penggerak utama dalam menjaga daya beli masyarakat di periode tersebut.

Andre menyebutkan adanya alokasi BLT Kesejahteraan Rakyat senilai Rp 31 triliun serta Program Magang yang mencapai Rp 500 miliar. Dengan total mendekati Rp 32 triliun, dana ini dinilai memberikan dampak material bagi perekonomian nasional.

"BLT Kesejahteraan Rakyat nilainya sekitar Rp 31 triliun dan Program Magang hampir Rp 500 miliar, jadi totalnya mendekati Rp 32 triliun. Nilai ini cukup material terhadap perekonomian," ujar Andre.

Bila dikomparasikan dengan Produk Domestik Bruto (PDB) nominal Indonesia yang berada di angka Rp 22.000 hingga Rp 23.000 triliun, stimulus tersebut terbukti signifikan. Intervensi kebijakan ini sukses memicu dorongan konsumsi pada akhir 2025.

Selain faktor musiman dan stimulus, Mandiri Institute juga menyoroti pergeseran demografi konsumen. Generasi Z kini memegang peran yang sangat dominan dalam peta konsumsi nasional di tanah air.

"Ke depan, yang perlu diantisipasi adalah Gen Z yang semakin dominan. Oleh karena itu, memahami pola konsumsi Gen Z menjadi sangat penting," tutur Andre.

Berdasarkan data saat ini, kontribusi Generasi Z terhadap total konsumsi masyarakat lintas usia telah mencapai angka 48% hingga 51%. Kelompok ini mayoritas terdiri dari kalangan mahasiswa serta lulusan baru (fresh graduate).

Karakteristik belanja kelompok muda ini cenderung berfokus pada kebutuhan tersier. Pengeluaran untuk hobi, hiburan, dan olahraga menjadi prioritas, di samping pengeluaran esensial seperti makan di restoran.

"Pengeluaran Gen Z banyak terkait dengan makan di restoran dan kebutuhan tersier, kemudian diikuti kebutuhan esensial. Kelompok ini umumnya berasal dari kalangan mahasiswa dan lulusan baru," kata Andre.

Andre menekankan bahwa memahami perilaku pasar dari generasi ini menjadi kunci bagi pelaku usaha. Hal ini dikarenakan kontribusi mereka yang telah melampaui setengah dari total konsumsi nasional.

"Secara keseluruhan, kontribusi Gen Z terhadap konsumsi nasional sudah mencapai sekitar 48 sampai 51%," tutup Andre.

Artikel terkait

Rekomendasi