Tensi geopolitik internasional yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu lonjakan harga minyak dunia sejak awal tahun 2026. Fenomena ini dinilai membawa perubahan struktural pada pasar energi global yang berdampak langsung terhadap arah investasi, seperti dilansir dari Money.
Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk Arief Cahyadi Wana menjelaskan kondisi tersebut dalam acara SMBC Indonesia Economic Forum 2026 di Jakarta pada Selasa (19/5/2026).
ÔÇ£Kita tahu dari Februari oil prices sudah meroket. Terutama di-trigger oleh perang Iran, Israel, dan juga Amerika,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Kenaikan harga komoditas energi ini membawa dampak tersendiri bagi perekonomian domestik. Menurut Arief, situasi tersebut memerlukan pemahaman mendalam karena akan memengaruhi keputusan para investor di tingkat global.
ÔÇ£Harga sudah sangat tinggi dan ini memang mempunyai dampak yang tidak begitu positif untuk negara seperti Indonesia,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Perubahan peta politik global membuat struktur pasar energi bergeser. Ashmore memproyeksikan harga komoditas tersebut tidak akan mudah kembali ke level rendah yang pernah dicapai beberapa tahun lalu.
ÔÇ£Tapi dari Ashmore kita melihat bahwa oil prices ini sulit untuk balik ke 50 atau 60 dollar AS,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Faktor utama sulitnya penurunan harga disebabkan oleh tingginya ketidakpastian geopolitik. Hubungan antardua kekuatan besar dunia kini tidak lagi sama karena adanya pergeseran sikap dalam menghormati kedaulatan wilayah.
ÔÇ£Saya setuju bahwa dunia ini rupture. Tanpa dari segi hormat-menghormati antara negara satu dengan negara lain itu juga sudah sangat berubah, terutama di-trigger oleh negara-negara besar,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Situasi tersebut terkonfirmasi dari diskusi Arief sebelumnya dengan mantan menteri luar negeri asing dalam sebuah forum internasional. Tokoh tersebut menyoroti pengabaian prinsip kedaulatan oleh sejumlah negara besar saat ini.
ÔÇ£Beliau bicara sendiri bahwa sekarang itu banyak negara besar itu tidak mematuhi yang namanya sovereign (kedaulatan),ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Konflik yang pecah di Timur Tengah maupun Eropa Timur dipandang sebagai implikasi nyata dari pergeseran tatanan tersebut.
ÔÇ£Jadi apa yang terjadi sekarang ini baik itu di Iran ataupun di Ukraina adalah derivatif dan turunan dari tata kelola yang sudah mulai berubah,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Berdasarkan simulasi historis terhadap guncangan harga minyak selama 45 tahun terakhir, proses stabilisasi pasar umumnya memakan waktu yang tidak sebentar.
ÔÇ£Kami melakukan beberapa simulasi dan melihat ke beberapa oil shock yang terjadi hampir 45 tahun terakhir, bahwa memang membutuhkan waktu antara 6 sampai 7 bulan untuk oil prices itu normalize,ÔÇØ papar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Meskipun proses normalisasi akan terjadi, level harga baru diprediksi tetap berada di atas rata-rata sebelum konflik terjadi.
ÔÇ£Nah, ini normalisasi itu di harga berapa?ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Konflik yang belum mereda membuat harga energi berpotensi tertahan di level tinggi untuk jangka menengah.
ÔÇ£Kami melihat bahwa oil prices ini agak sulit untuk turun, meskipun akan normal,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Ashmore memproyeksikan ketegangan geopolitik tidak akan memburuk secara ekstrem, namun juga tidak akan selesai dalam waktu dekat.
ÔÇ£Kita tidak berpikir bahwa perang ini akan menjadi worsen, tapi kita juga tidak bisa bilang bahwa perang ini juga akan selesai dengan cepat,ÔÇØ sebut Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak memicu tekanan inflasi di Amerika Serikat yang berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat setempat.
ÔÇ£Tentunya rakyatnya tidak terlalu suka karena inflasi akan naik, harga-harga naik, segala macam,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Kendati demikian, posisi fiskal Amerika Serikat diuntungkan karena status mereka saat ini telah berubah menjadi eksportir energi neto.
ÔÇ£Tapi jangan lupa bahwa negara Amerika itu adalah net oil exporter,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Perubahan status ini membuat kenaikan harga komoditas memberikan dampak positif bagi pendapatan negara tersebut.
ÔÇ£Dunia sudah berubah, Amerika itu adalah net energy exporter. Jadi kenaikan harga minyak itu adalah memberikan dampak yang positif secara fiscal untuk negara seperti Amerika,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Hal inilah yang mendasari analisis bahwa harga komoditas energi global akan bertahan pada level tinggi lebih lama.
ÔÇ£Jadi itu yang kami melihat bahwa posisi oil prices itu mungkin bisa bertengger di harga yang elevated cukup lama,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Kondisi pasar energi saat ini turut mengubah peta preferensi investor global dalam menempatkan dana mereka pada aset aman.
ÔÇ£Kalau Ibu Bapak lihat sejak Februari, sejak perang dan sejak harga oil prices naik, safe haven yang kita bicara selalu gold prices itu memberikan informasi yang sangat berbeda,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Fokus investasi kini beralih dari emas ke instrumen keuangan yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.
ÔÇ£Safe haven itu bukan lagi di emas selama geopolitik ini sangat tinggi,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Daya tarik obligasi pemerintah Amerika Serikat menjadi motor penggerak utama perubahan arus modal global tersebut.
ÔÇ£Orang-orang sudah tidak melihat apa safe haven. Mereka itu semuanya ingin aset yang memberikan yield tinggi, yaitu salah satunya adalah US dollar bond atau treasury bond yang yield-nya cukup tinggi,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Bagi pasar modal di Indonesia, pergerakan harga komoditas ini diidentifikasi sebagai faktor risiko utama yang dapat menekan kinerja emiten.
ÔÇ£Kita melakukan sensitivity dan juga melakukan analisa dengan beberapa harga oil prices karena kita melihat ini adalah the biggest risk dari investasi di saham ini adalah oil prices,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Melalui analisis sensitivitas, Ashmore memproyeksikan potensi koreksi pertumbuhan laba per saham jika harga minyak menyentuh level 85 hingga 100 dollar AS.
ÔÇ£Kalau kita melihat EPS (earning per share atau laba per saham) growth tahun 2026, kita lihat dari 12 persen bisa turun ke flat,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan pelaku pasar terhadap potensi penurunan profitabilitas korporasi dalam negeri.
ÔÇ£Melihat market Indonesia ini sekarang risiko dari earning risk itu cukup besar karena oil prices,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Meskipun demikian, peluang pertumbuhan laba yang lebih tinggi masih terbuka bagi emiten di sektor energi dan bahan baku berbasis komoditas.
ÔÇ£Di situasi seperti ini kita juga melihat bahwa opportunity yang memberikan EPS atau earnings lebih besar itu ada,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Kedua sektor tersebut diperkirakan akan mengalami akselerasi pertumbuhan performa keuangan saat harga minyak melonjak hingga 100 dollar AS.
ÔÇ£Kalau kita melihat sektor energi atau sektor basic materials yaitu commodity, itu dengan harga kenaikan oil prices 100 dollar AS mereka tumbuhnya lebih cepat,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Secara makro, posisi Indonesia dinilai tidak sepenuhnya dirugikan oleh dinamika pasar energi global asalkan dibarengi pengelolaan kebijakan yang tepat.
ÔÇ£Secara country, Indonesia itu sebetulnya tidak terlalu worse off dengan oil prices naik, selama tentunya regulator dan pemerintah bisa memanage ini dengan baik,ÔÇØ ujar Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.
Saat ini pelaku pasar modal terus memantau langkah strategis pemerintah dalam merumuskan regulasi untuk memitigasi dampak fluktuasi harga energi global.
ÔÇ£Ada beberapa regulasi yang akhir-akhir ini keluar membuat market agak sedikit khawatir bagaimana caranya untuk memitigasi potensi dari kenaikan commodity prices ini,ÔÇØ kata Arief Cahyadi Wana, Managing Partner & Founder PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk.