KOMPAS.com - Proyek Jalan Tol Gedebage-Tasikmalaya-Cilacap (Getaci) sempat digadang-gadang menjadi salah satu proyek jalan tol paling ambisius di Indonesia.
Dengan panjang mencapai 206,65 kilometer, ruas ini bahkan diproyeksikan melampaui Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung yang memiliki panjang 189 kilometer.
Namun di balik besarnya ambisi tersebut, proyek Tol Getaci justru menghadapi tantangan serius, yakni minimnya minat investor.
Nilai investasi yang mencapai Rp 56,2 triliun membuat proyek ini tidak mudah direalisasikan, terlebih di tengah ketatnya pembiayaan sektor infrastruktur.
Sempat Punya Pemenang Lelang
Dirangkum dari arsip pemberitaan KOMPAS.com, pada 2022, proyek Tol Getaci sebenarnya sudah memiliki pemenang lelang.
Saat itu, konsorsium PT Jasamarga Gedebage Cilacap (JGC) yang terdiri dari PT Jasa Marga (Persero) Tbk, PT Daya Mulia Turangga, PT Gama Group, dan PT Jasa Sarana ditetapkan sebagai pelaksana.
Namun, langkah konsorsium tersebut terhenti setelah gagal mencapai kesepakatan pembiayaan atau financial close, yang menjadi syarat penting untuk melanjutkan proyek.
Akibatnya, kontrak dinyatakan gugur dan proyek kembali ke tahap awal.
Dalam proses lelang ulang, dua konsorsium besar yang direncanakan jadi investor Tol Getaci yakni PT Trans Persada Sejahtera-PT Wiranusantara Bumi dan PT Helindo-PT Proyek Tiga juga tak berhasil lolos tahap kualifikasi.
Alasan Investor Tol Getaci Menjauh
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan, penyebab utama lesunya minat investor terletak pada potensi lalu lintas kendaraan yang dianggap belum cukup menjanjikan.
"Biasanya kalau satu proyek yang kita tawarkan itu tidak banyak minatnya, ya biasanya karena trafiknya kurang," ujar Dody dikutip pada Senin (20/4/2026).
Artinya, investor menilai prospek pendapatan dari tarif tol belum cukup kuat untuk menutup investasi jumbo yang harus dikeluarkan.
Secara perencanaan, Tol Getaci merupakan jalur strategis yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Dari total panjang 206,65 kilometer, sepanjang 171,27 kilometer berada di Jawa Barat dan 35,38 kilometer di Jawa Tengah.
Ruas ini akan melintasi Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Garut, Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Ciamis, hingga berakhir di Cilacap. Tol tersebut juga dirancang memiliki 10 simpang susun dengan masa konsesi selama 40 tahun.
Meski demikian, besarnya kebutuhan investasi menjadi tantangan tersendiri. Di tengah kondisi likuiditas perbankan yang semakin selektif menyalurkan pembiayaan proyek infrastruktur, angka Rp 56,2 triliun dinilai cukup berat tanpa dukungan tambahan dari pemerintah.
Selain persoalan finansial, proyek Tol Getaci juga menghadapi pertanyaan soal prioritas pembangunan.
Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan proyek dengan suntikan dana tambahan atau mengalihkan anggaran ke kebutuhan lain yang lebih mendesak.
Dody mencontohkan kebutuhan penanganan banjir di kawasan industri padat seperti Karawang dan Bekasi.
"Apakah lebih baik kita chip in di Getaci atau kita percepat konstruksi Bendungan Cibeet dan Cijurey supaya Karawang dan Bekasi itu tidak banjir lagi ke depannya?" beber Dody.