Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mematangkan kerja sama strategis pembangunan proyek bioetanol di Provinsi Lampung yang dijadwalkan memulai konstruksi pada kuartal III 2026. Inisiatif ini melibatkan kolaborasi antara Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), dan Danantara Investment Management sebagai upaya percepatan transisi energi nasional.
Dilansir dari Detik Finance pada Selasa (21/4/2026), pemilihan Lampung didasarkan pada melimpahnya potensi bahan baku mentah seperti tebu, ubi, dan sorgum di wilayah tersebut. Proyek ini merupakan hasil koordinasi intensif selama satu tahun terakhir antara pihak PNRE dengan konsorsium perusahaan asal Jepang guna memperkuat struktur energi domestik.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu mengungkapkan bahwa pengembangan proyek ini dilakukan secara tertutup selama setahun belakangan sebelum akhirnya memasuki tahap implementasi. Kemitraan ini akan didukung oleh teknologi mutakhir dari Jepang untuk memastikan efisiensi produksi.
"Program ini sebetulnya sudah kita jalankan dari satu tahun yang lalu, tapi memang kami silent dalam pengembangannya. Saat ini sudah ada koordinasi antara PNRE dengan Japanese Group, dalam hal ini yang akan ditunjuk adalah Toyota Tsuho yang akan menjadi partner, dan akan didukung mitra teknologi lainnya dari Jepang seperti RaBIT (konsorsium riset beberapa perusahaan otomotif dan energi Jepang)," kata Todotua Pasaribu, dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).
Pemerintah menargetkan pembangunan dilakukan dalam dua fase utama dengan kapasitas produksi yang meningkat secara bertahap. Pilot project direncanakan menghasilkan 60 kiloliter per tahun pada kuartal III 2027, yang kemudian akan ditingkatkan menjadi skala komersial sebesar 60.000 kiloliter per tahun pada pengujung 2028.
Strategi produksi akan menerapkan pendekatan multi-feedstock yang memanfaatkan limbah biomassa kelapa sawit hingga jagung dengan teknologi generasi kedua (2G). Pemerintah juga telah menyusun peta jalan mandatori pencampuran bahan bakar nabati guna mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah global.
"Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap," ujar Todotua.
Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada swasembada energi dan hilirisasi sumber daya alam. Selain sektor bioetanol, pemerintah mengapresiasi kontribusi mitra internasional dalam membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di tanah air.
CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda memberikan respons positif terhadap kemajuan diskusi mengenai pengembangan ekosistem bioenergi ini. Ia menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung rantai pasok lokal dan netralitas karbon melalui berbagai jalur teknologi.
"Kami mengapresiasi diskusi yang konstruktif dan progresif dengan stakeholders terkait untuk mengeksplorasi potensi kolaborasi di ekosistem bioenergi. Selain itu, melalui kemitraan strategis kami dengan CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) di Indonesia, kami bertujuan untuk memperluas kemampuan kami dari perakitan battery pack hingga manufaktur baterai dari sel dan modul baterai. Kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasok lokal yang kuat, mendukung pendekatan Multi-Pathway Toyota menuju netralitas karbon," ujar Masahiko Maeda.
Proses budidaya bahan baku sorgum akan dimulai pada lahan seluas 10 hektare sebagai percontohan pada tahun 2026. Skala ini ditargetkan berekspansi menjadi 6.000 hektare lahan komersial pada tahun 2027 dengan pemanfaatan area milik PTPN di Lampung.