Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tengah menghadapi tekanan jual yang signifikan dari investor asing di pasar modal Indonesia. Meskipun harga sahamnya terdampak sentimen pasar global, kinerja fundamental bank swasta terbesar di Indonesia ini dilaporkan tetap solid pada awal tahun 2026.
Dikutip dari Info, tekanan jual tersebut dipicu oleh dinamika ekonomi internasional seperti pergeseran arah suku bunga global dan perpindahan dana ke instrumen investasi lain. Kondisi ini lazim terjadi pada saham berkapitalisasi besar yang menjadi indikator utama bagi investor institusi mancanegara.
Bank Central Asia berhasil membukukan laba bersih senilai Rp14,7 triliun sepanjang kuartal I-2026. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 4 persen, baik jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya (qoq) maupun periode yang sama pada tahun lalu (yoy).
Analis menilai pencapaian laba ini telah memenuhi sekitar 24 persen dari estimasi tahunan perusahaan. Pertumbuhan ini didukung oleh pengelolaan biaya operasional yang efisien serta penguatan pada pendapatan non-bunga atau fee income.
Layanan digital dan transaksi nasabah menjadi tulang punggung pendapatan operasional lainnya yang tumbuh 11 persen secara tahunan. Sumber pendapatan ini mencakup biaya administrasi rekening, transaksi kartu kredit, transfer dana, hingga komisi layanan keuangan lainnya.
Di sisi lain, Net Interest Margin (NIM) BBCA tercatat berada di level 5,7 persen atau mengalami penurunan. Penurunan margin bunga bersih ini terjadi karena imbal hasil aset produktif yang menyusut, sementara biaya dana atau cost of funds tetap stabil.
Penyaluran kredit perusahaan masih menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan 6 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini dibarengi dengan posisi dana murah (CASA) yang kuat, di mana rasio CASA mencapai 84,7 persen dari total dana pihak ketiga.
Kualitas Aset dan Perbaikan Kredit
Indikator kualitas aset menunjukkan perbaikan dengan penurunan rasio Non-Performing Loan (NPL) sebesar 5 persen secara tahunan. Perbaikan signifikan terutama terlihat pada segmen korporasi dan komersial, meski segmen ritel dan UKM masih memerlukan pengawasan ketat.
Untuk target bisnis 2026, manajemen memproyeksikan pertumbuhan kredit di kisaran 8 hingga 10 persen. Perusahaan juga menjadwalkan pembagian dividen interim dalam tiga tahap yang akan berlangsung pada bulan Juni, September, dan Desember 2026.
BRI Danareksa Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga baru sebesar Rp10.900 per lembar. Sebelumnya, target harga dipatok pada level Rp11.400, namun disesuaikan karena perubahan asumsi biaya ekuitas menjadi 7 persen.
Para analis memandang risiko penurunan harga saham saat ini mulai terbatas karena valuasi BBCA sudah tergolong murah dibanding rata-rata historisnya. Namun, investor tetap diingatkan untuk mencermati risiko perlambatan kredit dan ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi arus keluar modal asing.