Kondisi pasar finansial global mulai menunjukkan tanda-tanda kembali normal di sepanjang tahun 2025. Aktivitas penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) serta merger dan akuisisi (M&A) tercatat mengalami peningkatan, seperti dikutip dari Investasi.
Sektor venture capital juga kembali bergairah yang didorong oleh perkembangan industri teknologi, khususnya artificial intelligence (AI). Pemulihan ini menjadi sinyal positif bagi pergerakan pasar modal ke depan.
"Private equity memasuki 2026 dengan elemen-elemen penting untuk mendukung dealmaking, mulai dari stabilisasi valuasi, terbukanya kembali pasar kredit, hingga membaiknya sentimen investor," tulis J.P. Morgan dalam laporannya.
Laporan dari J.P. Morgan mengungkapkan ada dua faktor utama yang memicu pertumbuhan pasar private equity pada tahun 2026. Faktor pertama adalah peningkatan aktivitas transaksi serta terbukanya peluang likuiditas karena kembalinya para pembeli, penjual, dan pemberi pinjaman ke pasar.
Faktor kedua didorong oleh kemunculan gelombang inovasi baru, terutama di bidang AI dan sektor kesehatan. Kedua sektor tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk menciptakan nilai investasi yang tinggi dalam jangka panjang.
Normalisasi ekspektasi valuasi juga berhasil memperkecil selisih harga antara penjual dan pembeli. Kondisi ini sekaligus mencairkan kebekuan pasar transaksi yang sempat terjadi sejak tahun 2022 lalu.
Perbaikan situasi ini juga didukung oleh pulihnya pasar kredit global. Penurunan spread pinjaman membuat pembiayaan leveraged buyout (LBO) kembali menarik investor, khususnya untuk transaksi di segmen small market dan middle market.
Data J.P. Morgan mencatat sebanyak 78% transaksi direct lending dipricing pada level SOFR plus 600 basis poin pada 2023. Namun pada 2025, sekitar 50% transaksi sudah berada di bawah SOFR plus 500 basis poin yang menandakan penurunan biaya pendanaan.
Segmen small dan middle market diproyeksikan menjadi area yang paling diminati sepanjang tahun 2026. Perusahaan di kelompok ini dinilai memiliki fleksibilitas tinggi, valuasi lebih rendah, serta kemudahan dalam menciptakan nilai lewat perbaikan operasional.
"Perusahaan small dan middle market umumnya masih dimiliki keluarga atau pendiri sehingga peluang profesionalisasi bisnis, efisiensi, dan ekspansi strategis melalui M&A masih sangat besar," tulis laporan tersebut.
Pertumbuhan pesat juga diperkirakan terjadi pada pasar secondary private equity secara global. Nilai transaksi di pasar ini telah mencapai US$ 160 miliar pada 2024 dan diproyeksikan mampu menembus angka US$ 200 miIiar pada 2025.
Sektor AI diprediksi akan menjadi pusat utama dalam penciptaan nilai baru di private market. Hal ini terlihat dari kecenderungan banyak perusahaan teknologi yang memilih bertahan lebih lama sebagai perusahaan privat ketimbang langsung melantai di bursa efek.
Sebagai contoh, OpenAI yang meluncurkan ChatGPT sekitar tiga tahun lalu kini telah memiliki valuasi mencapai US$ 500 miliar. Sementara itu, perusahaan infrastruktur AI seperti Databricks juga mencatatkan valuasi menembus lebih dari US$ 100 miliar.
"Value creation di sektor teknologi kini semakin bergeser dari pasar publik ke private market," tulis J.P. Morgan.
Dampak teknologi AI terhadap ekonomi global diproyeksikan sangat masif dalam beberapa tahun ke depan. Belanja teknologi informasi dunia yang saat ini berkisar di angka US$ 5 triliun diperkirakan melonjak hingga US$ 15 triliun dalam satu dekade mendatang.
Selain teknologi, bidang kesehatan ikut menjadi motor inovasi terbesar di private market. Perkembangan terapi genetik berbasis CRISPR, pemanfaatan AI untuk penemuan obat, hingga kemajuan precision medicine membuka peluang pertumbuhan jangka panjang.
J.P. Morgan menilai situasi terkini memberikan momentum yang sangat menguntungkan bagi para investor. Valuasi di sektor kesehatan saat ini sudah terkoreksi cukup dalam, sementara inovasi ilmiah di dalamnya justru terus berkembang pesat.
"2026 berpotensi menjadi tahun yang menjanjikan bagi private equity dengan dukungan likuiditas yang membaik dan inovasi yang terus berkembang," tulis J.P. Morgan.