Permintaan susu nasional mengalami peningkatan signifikan akibat implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mendorong konsumsi massal. Kondisi tersebut dilaporkan belum mampu diimbangi oleh kapasitas produksi susu segar dalam negeri (SSDN) yang pertumbuhannya masih berjalan lambat.
Data tersebut disampaikan oleh Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Yusup Munawar pada Minggu (26/4/2026) malam. Dilansir dari Money, ketergantungan terhadap komoditas impor diperkirakan masih akan mendominasi pemenuhan kebutuhan bahan baku susu nasional tahun ini dengan angka mencapai 80 persen.
Yusup Munawar mengungkapkan bahwa meski terdapat kenaikan produksi susu segar pada kuartal I 2026, angkanya belum mampu mengejar akselerasi permintaan pasar. Pertumbuhan tipis tersebut merupakan hasil dari aktivitas koperasi dan mulai berproduksinya sapi perah dari program investasi tahun sebelumnya.
"Meski demikian, pertumbuhan produksi belum signifikan. Sementara itu, kebutuhan susu nasional terus meningkat, terutama dengan adanya MBG," jelas Yusup Munawar, Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).
Kesenjangan antara kemampuan produksi dalam negeri dengan permintaan pasar membuat opsi impor tetap menjadi langkah strategis jangka pendek. Hal ini dilakukan demi menjamin kesinambungan pasokan susu bagi masyarakat di tengah lonjakan konsumsi yang masif.
"Pertumbuhan permintaan nasional berjalan jauh lebih cepat dibanding kemampuan produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN)," ujar Yusup Munawar, Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).
Upaya peningkatan kapasitas saat ini difokuskan melalui penguatan koperasi yang menaungi para peternak rakyat. Pihak koperasi berupaya memperbarui teknologi pengawetan pakan serta sistem reproduksi sapi perah untuk mendongkrak volume produksi harian.
"Dari sisi kapasitas, koperasi terus meningkatkan volume produksi dan kualitas susu yang dihasilkan," jelas Yusup Munawar, Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).
Langkah digitalisasi pada rantai pasok juga mulai diterapkan guna mengefisiensi distribusi susu dari peternak ke konsumen. GKSI menargetkan penguatan sumber daya yang ada untuk menekan angka impor dalam jangka menengah dan panjang.
"Dalam jangka menengah dan panjang, ketergantungan impor diharapkan dapat berkurang, melalui penambahan populasi sapi perah produktif serta peningkatan produktivitas sumber daya eksisting," imbuh Yusup Munawar, Direktur Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI).