Hampir separuh profesional keamanan siber di dunia mempertimbangkan untuk mengundurkan diri akibat ketidakseimbangan antara beban tanggung jawab yang berat dan apresiasi perusahaan yang minim. Fenomena ini muncul di tengah eskalasi ancaman digital global yang semakin kompleks pada Selasa (28/4/2026).
Berdasarkan Global Technology Talent & Salary Report dari Harvey Nash yang melibatkan 3.600 responden, dilansir dari Teknologi, tercatat 49 persen pekerja di sektor ini berencana mencari pekerjaan baru dalam satu tahun ke depan. Riset tersebut menyoroti bahwa hanya 29 persen profesional keamanan siber yang menerima kenaikan gaji.
Angka perolehan kenaikan pendapatan tersebut jauh tertinggal dibandingkan profesi teknologi lainnya seperti DevOps, manajemen produk, dan analisis bisnis yang mencapai lebih dari 50 persen. Kondisi ini memicu ketidakpuasan kerja bagi 23 persen praktisi keamanan siber di industri teknologi informasi.
Ankur Anand dari Nash Squared menjelaskan bahwa pemimpin perusahaan seringkali merasa kondisi operasional aman selama serangan besar belum terjadi secara nyata. Hal ini menyebabkan kerja keras tim pencegahan sering kali tidak terlihat oleh jajaran manajemen atas.
"Ironisnya, tim keamanan yang paling banyak mencegah kerusakan justru paling sedikit mendapat pengakuan," kata Anand.
Anand menambahkan bahwa karakteristik pekerjaan keamanan siber memiliki risiko yang tidak proporsional bagi para pekerjanya. Keberhasilan sistem membuat hasil kerja mereka tersembunyi, namun kegagalan kecil dapat menimbulkan dampak kerugian yang sangat masif bagi organisasi.
"Perkembangan ini menunjukkan bagaimana AI dapat menemukan semua kerentanan tersembunyi dalam sistem," ujarnya.
Pernyataan tersebut merujuk pada pemanfaatan kecerdasan buatan seperti Anthropic Mythos yang mampu mengidentifikasi celah sistem dengan kecepatan tinggi. Meski AI menjadi ancaman baru, teknologi ini juga dipandang sebagai alat otomatisasi yang dapat membantu efisiensi kerja tim keamanan.
Anand memberikan penegasan bahwa eksistensi ahli keamanan siber tetap krusial dalam menavigasi penggunaan AI agar tetap berada di jalur regulasi yang aman. Perusahaan kini dihadapkan pada tantangan mengelola sistem lama yang rentan sembari mengimbangi beban kerja staf yang terus meningkat.